Perjalanan ke Teluk Wondama (4?)

…rupanya satu halaman tidak cukup untuk cerita pengalaman 2 minggu di Papua….

Cuaca cerah di Hari Sabtu ketika kapal memasuki daerah Serui, saya sempat terheran-heran ketika ada seorang bapak sedaang asyik menelpon dari hape-nya. Ketika saya tanya, rupanya di daerah itu ada sinyal dari salah satu operator selular. Fyi, tidak semua operator selular memberikan layanan di Papua. Untuk amannya, lebih baik seandainya memiliki nomor dari Operator T*******L selain nomor lain yang biasa kita pakai….

Mengisi waktu di kapal saya gunakan untuk berkenalan dengan banyak orang, berbincang-bincang tentang hal-hal yang belum saya ketahui di Papua. Satu hal yang kemudian saya sadari adalah bahwa Papua dan Papua Barat itu begitu luasnya sedangkan jumlah penduduk dan daerah terbangunnya masih sangat sedikit (tidak berarti bahwa saya akan pindah ke Papua, he he…). Memang luasan yang masuk dalam kawasan lindung di sini sangat besar, TN Lorntz, TN Teluk Cendrawasih, belum lagi kawasan yang memang susah untuk dibangun.

Terbayang kesulitan saudara-saudara kita di Papua ini pada umumnya dalam hal pengembangan daerahnya. Isolasi komunikasi, Isolasi transportasi, harga barang yang kemudian menjadi mahal, dan itu tadi, banyak kawasannya yang tidak bisa dibangun karena kondisi alamnya (rawa, tebing, dan jurang), atau kawasan yang masuk dalam kawasan lindung berskala internasional).

Ketika tiba di Pelabuhan Nabire hari Sabtu pukul 20.00 WIT, dengan semangat tinggi saya mengaktifkan hape saya dengan harapan dapat segera berkomunikasi dengan keluarga di Bandung. Tampak indikator sinyal full, saya coba kedua sim card saya (I*****T dan T*******L), tapi dari kedua nomor tersebut, saya hanya bisa berkomunikasi 1 x saja, mungkin karena overload ya? sekian orang secara bersamaan menggunakan bandwidth…

Akhirnya kami tiba di Pelabuhan Wasior pada hari Minggu, 14 Juni pukul 04.00, menjelang subuh. Kawan saya, Rojer, yang menjemput dan mengantar saya ke tempat tinggal kawan lama saya di daerah Sanduay.

Setelah berbicara sejenak, solat subuh, akhirnya saya tidak sabar untu k melanjutkan pengembaraan di dunia mimpi…. Alhamdulillah….

Perjalan ke Teluk Wondama (3?)

…….tulisan ini terutama didedikasikan bagi mereka yang hendak bepergian ke wilayah Papua dan belum memiliki informasi yang cukup mengenai kondisi transportasi di kawasan ini…. semoga membantu…

Kapal Labobar yang seharusnya masuk Pelabuhan Jayapura Hari Jumat 12 Juni pukul 11.00 ternyata baru tiba pukul 16.00, dan direncanakan berangkat pukul 13.00 akhirnya direschedule berangkat pukul 20.00 dan jadinya berangkat juga pukul 23.00 WIT. Saya yang sudah check out dari hotel, akhirnya extend setengah hari karena tidak mungkin saya bengong di pelabuhan untuk sesuatu yang tidak pasti…. Di hotel saya berbincang-bincang dengan seorang Bapak, yang rupanya hendak berangkat ke Nabire dengan kapal yang sama. Kami sama-sama mengatakan, “Semoga kita bisa bertemu lagi Pa…”

Selepas maghrib saya sudah standby di pelabuhan bersama ratusan, bahkan mungkin ribuan orang calon penumpang lainnya… Setelah melalui prosesi boarding, saya tidak kesulitan menemukan kamar 6024 di dek 6, berdasarkan pengalaman sebelumnya dengan Kapal Ngapulu dari Wasior ke Jayapura.

fyi, kalau tidak salah ada 4 kelas tiket, yaitu kelas ekonomi, kelas wisata, kelas 1b, dan kelas 1a. Mempertimbangkan satu dan lain hal, saya ambil tiket kelas 1b seharga Rp 550.000,00 yang dibeli di salah satu loket penjual tiket PELNI di Kota Jayapura, dekat dengan hotel tempat saya menginap, tiga hari sebelum keberangkatan.

Satu kamar berisi 4 orang, ya tentunya dengan empat bed, empat locker, dan 1 kamar mandi lengkap di dalam, meja kerja, dan satu unit pesawat televisi. Ruang ber-AC ukuran 2,5 x 5 meter tersebut cukup nyaman untuk perjalanan selama 30 jam. Dan karena berada dekat dengan titik setimbang kapal, dan ukuran kapal yang cukup besar, maka hantaman ombak tidak begitu terasa.

Di luar dugaan, begitu saya sampai di kamar, rupanya Bapak yang tadi bertemu di lobby hotel juga berada di kamar yang sama, sehingga spontan kami sama-sama ‘berteriak’, “Ah, rupanya kita bertemu lagi!” (salam untuk Pak Decky Kayame, Kepala Dinas Perhubungan Kab. Nabire….).

Lebih malam lagi, masuklah seorang Bapak lainnya, yang rupanya beliau adalah supporter sejati Persipura, yang sengaja datang ke Jayapura bersama sekian banyak orang supporter lainnya dari Manokwari hanya untuk menyaksikan petandingan Persipura vs Sriwijaya FC tempo hari. Banyak ceritanya yang menggambarkan betapa Pesipura menjadi kebanggan orang Papua, tidak hanya warga Jayapura, bahkan sampai kota-kota lain juga.

Di dalam kamar, ada juga Pak Robi, yang bertugas di Dinas Kesehatan Kabupaten Paniai, yang rupanya adalah saudara Pak Decky.

Sepanjang siang dan malam, ketika kegiatan di luar tidak lagi menjadi menarik, atau karena tiupan angin terlalu kuat, kami asyik bercerita pengalaman masing-masing. Yang terlihat asyik dengan kegiatannya adalah Pak Robi ini, hampir sepanjang perjalanan beliau sibuk menulis di notebooknya. Terlihat beliau familiar sekali dengan laptop dan modem hapenya. Ketika saya cerita bahwa pengalaman-pengalaman saya dituliskan di blog ini, beliau tertarik untuk berkunjung suatu saat….

Yang menarik adalah ketika beliau sampaikan tentang betapa besar rasa syukurnya karena beliau berada di lingkungan keluarga dengan seorang ayah yang sangat mengutamakan pendidikan, sehingga ketika putra-putrinya beranjak dewasa, semua sukses dengan pekerjaannya. Beliau bercerita bagaimana sikap ayahandanya ketika beliau pulang kampung, berlibur dari kuliah, bagaimana ketika mereka sudah menduduki jabatan tertentu, sementara sebagian kawan-kawannya sampai saat ini ada yang masih hidup menggunakan koteka…

Tentang Kapal Labobar, saya bisa cerita tentang mushollanya yang bersih, AC-nya yang dingin, air wudhu yang tersedia dengan lancar, dan tentunya dengan penunjuk arah qiblat yang bisa diputar-putar, dan juga kain yang dapat dipindah-pindah sesuai arah qiblat tadi… Ruang makan yang terletak dekat sekali dengan kamar saya memungkinkan saya beberapa kali menjadi pengunjung pertama tempat tersebut (mode rewog: on).

(bersambung…)

Perjalanan ke Teluk Wondama (sambungan)

…tulisan ini ditulis sebagai sambungan dari tulisan pertama saya, tentang Perjalanan ke Teluk Wondama, terutama teringatkan oleh komentar dari Mas/Pak Iwan Bulus tangal 18 Februari lalu…

Ke Teluk Wondama bisa melalui rute:

1. Jakarta – Manokwari – Wasior (ibu kota Kab. Teluk Wondama)

2. Jakarta – Jayapura – Wasior.

Moda tranportasinya:

1. Jakarta – Manokwari,

Bisa pakai Merpati Air, Batavia Air, atau Ekspress Air. Harga tiket bervariasi.

Dari Manokwari ke Wasior bisa via udara, pakai pesawat kecil (18 penumpang) dengan ketidakpastian pemberangkatan karena jumlah penumpang tidak sebanding dengan frekuensi penerbangan (jalur perintis), lama waktu tempuh sekitar 30 menit, terbang tidak terlalu tinggi, masih bisa menikmati pemandangan, tapi suara berisik karena pesawat baling-baling….

atau via laut, pakai ‘Kapal Putih’ dengan membeli tiket PELNI, waktu tempuh sekitar 6 – 8 jam, atau ‘Kapal Perintis’ (yang ini saya gak tau beli tiketnya di mana). Waktu tempuh sekitar 13 – 15 jam.

2. Jakarta – Jayapura, pilihan maskapai dan waktu lebih banyak.

Dari Jayapura ke Wasior dengan Kapal Laut bisa memakan waktu 48 jam, mampir di beberapa tempat seperti Sarmi, Biak, Yapen, Waropen, Nabire, baru masuk ke Wasior.

Tentang jadwal dari Manokwari atau dari Jayapura ke Wasior, saya tidak bisa membantu banyak, karena sangat kondisional. Mungkin setibanya di Manokwari atau Jayapura bisa cari info lagi. Untuk di Manokwari, silakan kontak Bang Mody (sopir carteran), nomornya: 085244661067.

Info tambahan:

1. Di Manokwari ada Mall Hadi, cukup lengkap, harga standar lah, tidak heboh2 amat.

2. Sediakan saja dana untuk satu orang sekitar 10jt untuk transport pp dari dan ke Jkt.

3. Di Wondama hanya ada Bank Papua dan Bank BRI. Saya sudah coba ATM Bersama-nya bisa narik dana dari rekening BNI.

4. Di Wasior baru ada 1 hotel, lokasinya dekat kantor Bupati. Rate-nya saya lupa. Tapi biasanya fully booked. Pengelolanya Mas Faiz, 085244499778. Di hotel ini ada warnetnya juga.

5. Menu makanan cukup bervariasi, ada gado-gado, ada soto, sate, de el el… Yang pernah saya coba sate ayam di dekat bandara, sate di dekat kantor Polsek, gado2 di dekat dermaga (sudah pindah).

6. Kalau anda muslim, diharap berhati-hati karena (maaf) binatang anjing dan babi berkeliaran dengan bebas.

Semoga membantu…

—————

Kalau boleh nitip Mas, saya titip tanaman Keris Papua yang batangnya hitam ya, biar yang di rumah ada temennya, tks…

Ini foto2 yang bisa saya share:

Kamar 'sewa khusus'
Suasana di dermaga wasior
Suasana di Bandara Wasior

Perjalanan ke Teluk Wondama

Tulisan aslinya ada disini…

Bagi saya, perjalanan ke Papua selalu menyisakan kesan tersendiri. Pengalaman-pengalaman selama perjalanan dan selama di sana begitu berbekas, yang baik dan yang kurang baik.

Pernah suatu ketika, dalam perjalanan ke Merauke, selama transit dan duduk dengan beberapa bapak yang asyik diskusi tentang bagaimana dauh dan melelahkannya perjalanan ke Jayapura, transitnya lama, terbangnya juga lama, gak kebayang di sana seperti apa, dll. Dalam hati saya bilang, “Baru ke Jayapura, sudah berkeluh kesah seperti itu, bagaimana kalau ditugaskan ke pedalaman Papua?” he he… sok tahu ya…?

Perjalanan ke Teluk Wondama yang terakhir, bulan Oktober lalu meninggalkan cerita yang tidak kalah seru…

Ketika kami (saya dan seorang kawan) tiba di tempat pengambilan bagasi di Bandara, saya cukup dikejutkan ketika Bang Mody, seorang sopir kijang carteran manggil saya. Saya cukup surprised sebab terakhir kami bertemu satu tahun sebelumnya, itu pun hanya beberapa hari saja, dia antar rombongan ke sana sini. Karena saya belum menemukana bagasi kami, saya minta dia nunggu kami keluar.

Sekitar setengah jam berlalu, kami masih belum berhasil menemukan bagasi kami, padahal orang lain sudah banyak yang meninggalkan tempat. Akhrinya, setelah bagasi terakhir diambil orang, dan kami tidak menemukan bagasi kami, kami tanyakan kepada petugas, Pak Romli (kl tidak salah) yang terlihat capek penuh dengan keringat. Singkat kata, kesimpulannya adalah bahwa karena kesalahan ground crew di Bandara Soekarno Hatta, bagasi kami diturunkan di Sorong, bandara terakhir sebelum kami turun di Manokwari. Saya bilang kesalahan ground crew di bandara CGK, karena jelas-jelas di tiket tujuan kami adalah Manokwari, sedangkan tag bagasi kami Sorong.

Terus terang, awalnya kami ingin sekali melampiaskan kemarahan, akan tetapi, melihat para petugas yang terlihat lelah, tapi tetap berusaha sabar melayani kami, akhirnya kemarahan itu tidak muncul. Setelah bertukar nomor telepon karena dia janji untuk menghubungi kami jika bagasi kami ditemukan, kami menuju luar ruangan.

“Ah, bapak mau ke Wasior toh? Nanti malam ada kapal berangkat.” seorang Bapak menyapa kami dengan ramah. Mungkin karena melihat bungkusan paket yang kami bawa bertuliskan Wasior, ibukota Kabupaten Teluk Wondama. Belakangan akhirnya kami banyak dibantu oleh beliau dalam urusan kami di sana. Alhamdulillah.

Bang Mody mengantar kami keliling Kota Manokwari, beli tiket Pelni, makan coto makasar yang enak, sebelum akhirnya menunjukkan kami ke penginapan yang berdekatan dengan pelabuhan. “Supaya kalau kapal datang bisa langsung jalan kaki ke pelabuhan.” katanya menjelaskan kenapa memilih hotel tersebut.

Sore harinya kami sempatkan belanja pakaian di satu-satunya mall yang ada di Manokwari. Kadang kalau dipikir, lucu juga orang Bandung kok belanja baju di Manokwari. Mau bagaimana lagi, karena tidak ada perlengkapan maka harus ada penggantinya.

Tengah malam saya terbangun. Melihat dari jendela kamar, di arah pelabuhan terlihat banyak sekali lampu bersinar. Setelah diamati, ternyata itu adalah kerlap kerlip lampu dari Kapal Labobar yang telah tiba di pelabuhan dan siap untuk berangkat menuju Wasior. Kamipun segera bersiap. Dengan berjalan kaki kami menuju pelabuhan setelah urusan dengan hotel diselesaikan.

Tiket yang kami miliki adalah kelas ekonomi seharga Rp 50.000,00. Dengan optimis kami naik ke dalam kapal melalui antrian yang cukup panjang dan berdesak-desakan. Kami sangat kaget ketika sudah di dalam kapal, kebingunan mencari tempat untuk duduk. Maklumlah, kelas ekonomi nasibnya tidak jelas..

“Ada kamar kosongkah?” saya bertanya kepada salah seorang ABK berseragam putih-putih yang sedang berdiri di tangga…

“Ah, bapak perlu kamarkah?” dia balik bertanya….

Dengan mengeluarkan enam lembar uang seratus ribu, akhirnya kami mendapatkan fasilitas kamar ber-AC dengan dua bed, lengkap dengan televisi dan kamar mandi di dalam kamar. Uang sebanyak itu untuk mendapatkan fasilitas kamar selama 6 jam perjalanan dari Manokwari menuju Wasior.

(bersambung….)

Mudik Lebaran 1431 H

… catatan mudik lebaran via darat dari Bandung ke Jambi melaui Selat Sunda, 15 tahun lalu…

Ya, mudik lebaran sepertinya suatu kegiatan yang betul-betul ditunggu-tunggu oleh sebagian besar muslimin di Indonesia.

Mudik bisa dimaknai sangat berbeda-beda, dari yang sekalian melepas rindu kepada orangtua, bersilaturrahim dengan keluarga besar, ada yang dimaknai sebagai ajang untuk sekalian menunjukkan keberhasilan perjalanan kehidupannya selama ini… Dan kita tidak akan pernah tahu karena itu adalah urusan hati… Yang bisa dicatat adalah bahwa kegiatan mudik adalah kesempatan bertemu dengan banyak orang, kesempatan untuk bisa belajar banyak, kesempatan untuk dapat lebih banyak berbagi, dan berbagai kesempatan lainnya yang berkonotasi positif…

“Bi, mudik itu artinya menuju udik ya? Kalau gitu, di kota besar seperti Jakarta itu banyak orang udiknya?” ha ha ha… begitu kira-kira pertanyaan salah seorang anak saya…

Lebaran tahun ini (1431 H) alhamdulillah kami sekeluarga ditakdirkan Allah swt untuk mudik ke Jambi, kota tempat mertua dan beberapa saudara istri tinggal. Ya, kami usahakan untuk dapat berlebaran secara bergiliran. Kalau tahun ini di keluarga istri, maka tahun berikutnya giliran di keluarga saya, begitu seterusnya, insya Allah….

Dengan berbagai pertimbangan, kami putuskan lebaran kali ini melalui jalan darat, menggunakan kendaraan keluarga supaya leluasa dengan bawaan kami, dan leluasa dengan jadwal perjalanan.

Seperti mudik sebelumnya, pengkondisian anak-anak sudah dimulai 2 minggu menjelang keberangkatan. Menurut saya ini penting, karena dengan demikian, anak-anak menjadi bersemangat untuk menjalani perjalanan panjang ini (Bandung – Jambi sekitar 1.050 km). Kami berdiskusi tentang rencana ini, jadwal berangkat dari Bandung apakah pagi, siang atau malam, apakah langsung ke Jambi atau menginap di Lampung dan atau Palembang, dst.

Bagi saya sendiri, salah satu tools yang sangat diperlukan adalah alat bantu navigasi (GPS). Kebetulan GPS kantor yang saya pinjam setelah saya periksa ternyata peta-nya sudah berganti, sehingga tidak ada peta sumatera-nya. Alhasil sayapun mencoba mencari sumber peta lain. Karena keterbatasan pengetahuan, dan keinginpraktisan saya, akhirnya saya googling via mobile internet (males ke warnet, males buka2 komputer). Alhamdulillah ada beberapa blog yang menunjukkan cara memasukkan peta ke dalam mobile GPS (kebetulan di HP saya sudah terinstall mobile gps). Akhirnya sayapun terarahkan ke www.navigasi.net dan mengunduh peta di situ, dan dengan tutorial yang diperoleh dari beberapa blog, akhirnya terinstall-lah peta baru di hape saya. SubhanAllah datanya cukup informatif dan lengkap. Dengan informasi dari peta tersebut, ketika indikator bbm menunjukkan setengah, saya tidak khawatir lagi karena tahu masih ada spbu dalam jarak dekat di depan….

Rupanya Allah swt memperlihatkan kuasa-Nya. Seminggu menjelang jadwal keberangkatan, ketiga anak saya terkena sakit batuk, dan juga panas secara bergiliran. Karena khawatir, kami akhirnya membawa si bungsu tes darah, untuk meyakinkan apakah ada penyakit yang berbahaya atau karena flu saja. Setelah mendapat kepastian bahwa tidak ada penyakit yang membahayakan, akhirnya kami putuskan untuk tetap berangkat.

Karena kondisi saya yang juga kurang sehat, rencana berangkat Minggu malam akhirnya digeser menjadi Hari Senin pagi. Pukul 06.05 kamipun memasuki gerbang tol Buahbatu. Singkat kata, kira-kira pukul 11.00 kami tiba di pelabuhan Merak. Kamipun membeli tiket seharga Rp 198.000 (uang yang kami bayar sama dengan nominal yang tertera di tiket). SubhanAllah, dari lokasi pembelian tiket tersebut kami dapat langsung naik kapal, dan sekitar 10 menit kemudian kapal ferry kamipun berangkat menuju Bakauheni…

Menjelang asar, karena kondisi fisik yang terasa berat, saya putuskan untuk mencari hotel di Bandar Lampung, dan alhamdulillah masih mendapatkan dua kamar kosong. Maghrib kami putuskan untuk makan di satu tempat makan franchise di seberang hotel, sambil mengamati perilaku orang-orang yang makan di situ.

Acara malam diisi dengan menerima kunjungan kawan lama waktu di SMA yang kebetulan bekerja dan tinggal di Bandar Lampung. Terima kasih untuk Dasep beserta istri, dan Fisky yang sudah menyediakan waktunya untuk bisa bertemu walaupun tidak bisa lama. Banyak pengalaman yang bisa saya dapatkan dari cerita Dasep dan Fisky…

Selasa pagi, kami berangkat pukul 06.00, setelah sarapan pagi diganti sahur di kamar masing-masing. Perjalanan Lampung menuju Palembang sekalian digunakan untuk memperkenalkan Kota Bandar Lampung ke anak-anak. Rupanya mereka lebih memilih memanfaatkan fasilitas berbuka puasa karena sebagai musafir diperbolehkan untuk berbuka..

Tibalah waktu dhuhur, dan kami putuskan untuk sholat di salah satu spbu yang ternyata berjarak sekitar 5 menit dari Rumah Makan Pagi Sore dekat Danau Teluk Gelam, beberapa menit sebelum memasuki Kota Kayu Agung… Karena area parkir dekat musholla sudah terisi, maka saya memarkir kendaraan di posisi ‘paling luar’, paling dekat dengan jalan raya…

Ketika parkir, terlihat ada satu mobil dengan plat nomor berawalan “D” yang berarti berasal dari daerah Priangan (Bandung dsk). Selesai sholat, sopir mobil tersebut menyapa saya, bertanya ke mana tujuan saya, dan mengajak konvoi karena mobilnya menuju Medan, dan berrencana istirahat di Jambi. Singkat kata, karena bapak tersebut terlihat masih agak lama istirahatnya, saya sampaikan bahwa saya akan pergi lebih dulu dari dia. Akan tetapi kami terkaget2 ketika mendapati kaca jendela sopir sudah pecah dan pecahannya berantakan ada di dalam jok depan….

Wah, betul2 kaget saya, apalagi putri saya, Nada yang langsung berteriak spontan…. Mendapati kaca pecah seperti itu, saya hanya berpikir, apa tadi selama jalan saya sempat menyenggol orang atau membuat orang celaka sehingga dia marah dan memecahkan kaca mobil saya? sambil membersihkan kaca, sayapun beristighfar, memohon ampun seandainya saya melakukan hal tersebut… Tiba-tiba anak saya teriak, “Bi, tas pinggang abi mana?” Deg! kontan saya ingat tas laptop yang ditinggal di mobil… Alhamdulillah tas laptop masih aman di jok belakang, karena memang tertutup berbagai barang lain…

Setelah bersih2 pecahan kaca, kamipun meneruskan perjalanan, setelah sebelumnya melaporkan kejadian tersebut ke pengelola SPBU. Saya sampaikan bahwa ini supaya menjadi perhatian, sehingga tidak ada orang yang mengalami hal yang sama…

Perjalanan ke Palembang diiringi suara “kelepakan” plastik penutup kaca darurat. Karena itu, kamipun memutuskan untuk menginap lagi di Palembang karena mobil harus diperbaiki dulu. Sayangnya bengkel resmi sudah mau tutup, dan disuruh kembali keesokan paginya. SubhanAllah, Allah swt memberikan kami kemudahan lagi. Kami mendapatkan penginapan gratis di Palembang, di rumah salah seorang kenalan kami, dan mobil yang bolong tersebut dapat disimpan dengan aman.

Rabu pagi, ketika kendaraan sedang diperbaiki, adik kami tiba menjemput kami dan mengantar jalan-jalan keliling Kota Palembang. Pasar 16 Ilir menjadi tujuan untuk mencari selembar kain songket….

Pukul 10.30, ditelpon oleh bengkel, diinformasikan bahwa kaca sudah selesai diganti, dan pukul 11.00 kamipun bisa meneruskan perjalanan ke Kota Jambi, dan kami tiba di Jambi sekitar pukul 17-an…

Kegiatan di Kota Jambi diisi melepas kangen dengan orang tua, silaturahim dengan famili yang juga berdatangan, jalan ke sana ke sini, melihat jembatan Batang Hari II, wisata kuliner (tentunya dong…), dan alhamdulillah masih dapat bertemu dengan kawan (tepatnya mantan mahasiswa waktu sy masih menjadi dosen luar biasa di salah satu perguruan tinggi teknologi negeri di Bandung). Diajaknya saya melihat lahan di tepi Danau Sipin, sambil bercerita tentang berbagai kegiatan pembangunan di Kota Jambi…

Sholat Ied saya ikuti di “Masjid Seribu Tiang”….

(bersambung…)

Kota kecil bernama Ciamis… (tulisan tahun 2007, ketika Pangandaran masih menjadi bagian dari Ciamis)

Diadaptasi dari tulisan lama di blog ini…

” …. di sanaa tempat lahir betaa…. dibuaaai dibesarkan bundaa .. ”

Rasanya sebaris lagu tsb cocok untuk menceritakan Ciamis, kota kecil di ujung timur Jawa Barat, tempat pertama kali menghirup udara dunia yang segar, tumbuh, selama sekitar sembilan belas tahun…

Banyak perubahan yang telah terjadi, kawasan ‘kota’ yang bertambah luas, ruas jalan bertambah panjang, kendaraan bertambah banyak, wajah kota yang mulai ‘agak’ berubah seiring dengan keberadaan toko-toko swalayan, dan juga area alun-alun, daerah favorit saya dan anak-anak setiap kali pulang kampung…

Taman raflesia, amphitheater, jogging track, ‘taman pijit refleksi’, air mancur, merupakan elemen-elemen baru yang turut mensukseskan keberadaan pusat Kota Ciamis tersebut, terutama di saat-saat bulan puasa.

Tak ketinggalan pula delman domba, atau sering disingkat deldom, kendaraan khas yang merupakan miniatur delman yang biasanya ditarik oleh kuda, turut memberikan suasana meriah di sana…

Berjuta kenangan yang terlintas setiap kali berada di kota manis ini, kenangan manis tentunya… masa kanak-kanak penuh keceriaan, suasana alam yang masih bersahabat yang alhamdulillah masih dapat dirasakan dan dialami oleh anak-anak kami…

Sebenarnya banyak sekali potensi yang dimiliki kabupaten paling timur di propinsi Jawa Barat ini, mulai dari keindahan pantai Karapyak, Karang Nini, Lembah Putri, Pananjung Pangandaran, Pasir Putih, Cagar Alam, Batu Hiu, Batu Karas, sampai Cimerak di bagian pesisir selatan, dan berbagai potensi pertanian dan perkebunan yang ada di bagian utara.

Kecamatan Cimerak, Cijulang, sampai Langkaplancar yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi sentra perikanan, pertanian, perkebunan, dan kehutanan tentunya akan semakin memberikan sumbangan yang signifikan manakala dikelola dengan baik, didukung sarana dan prasana yang terus ditingkatkan sehingga mempermudah aksesibilitas untuk memasarkan berbagai komoditas hasil olahan ke dan dari daerah tersebut.

Padaherang, Kalipucang, Lakbok, tentunya masih dikenal sebagai kawasan pertanian yang cukup luas, walau sudah mulai berkurang tentunya karena tuntutan perubahan yang ada.

(sambungan…)

Minggu, 06 Juli 2008…

Hari Minggu kemaren kami sempet jalan-jalan ke Taman Raflesia. Sambil menunggu maghrib, akhirnya mampir ke jalan deket Swadaya… nah, ni dia fotonya, mungkin temen-temen masih ada yang inget…

Martabak dan ayam goreng di

Dari satu sudut di Kota Bandung… (tulisan tahun 2010)

diadapatasi dari tulisan ini di blog lama..

Masih terbayang dalam ingatan, masa-masa kecil ketika musim liburan sekolah tiba. Saya dan saudara-saudara yang umurnya hampir sama seringkali berlibur ke Kota Bandung, untuk menikmati suasana lain. Kerja keras untuk mendapatkan nilai terbaik selama satu catur wulan terbayar rasanya dengan liburan di Kota yang dikenal dengan sebutan Paris van Java ini.

Rumah Om yang berada di sekitar Hotel Homann, menjadikan jalan-jalan ke alun-alun di malam hari suatu keharusan, tanpa memerlukan naik kendaraan. Melihat air mancur, bermain dana bercengkrama dengan saudara-saudara di bawah pergola dengan tanaman rambatnya, suasana yang dingin dan kadang berselimut kabut. Para tukang foto yang dengan santun menawarkan jasa foto kilatnya, jajanan khas Kota Bandung. Sungguh menyenangkan….

Hari kedua biasanya diisi dengan kunjungan wajib ke rumah Nenek yang berada di Sukajadi. Rute kendaraan dari bawah jembatan Masjid Agung, ke Jalan Banceuy, Wastukancara dengan batu-batu retaining wall sepanjang jalan, deretan pohon palem di jalan Terusan Pasteur. Sungguh menjadi kenangan yang masih terrekam hingga saat ini.

Jaket, merupakan salah satu yang tidak boleh tertinggal dalam daftar bawaan saya. Karena Kota Bandung masih terasa dingin, apalagi di malam hari. Kunjungan ke Sukajadi harus diselingi dengan mandi dan keramas sepuas-puasnya, sekedar untuk merasakan dinginnya air Kota Bandung waktu itu.

Berjalan kaki di sepanjang Jalan Asia Afrika,  merupakan perjalanan yang mengasyikkan bagi anak seusia SD, apalagi terbayang berbagai pilihan sepatu dan pakaian yang sangat beraneka ragam dengan kualitas yang dapat diandalkan untuk dipakai berlebaran.

Tidak pernah terdengar ada cerita banjir, atau macet, tanah longsor, atau angin puting beliung… Selain karena media informasi yang masih sangat terbatas, juga memang karena kejadian semacam itu sangat jarang terjadi…

Tapi… itu dulu….

Coba kita perhatikan dan amati kondisi Kota Bandung saat ini…

Pekan-pekan terakhir ini, kalau bada maghrib saya menelpon ke rumah, informasi pertama dari istri saya adalah, “hujan deras, pulangnya tunggu saja dulu, atau cari jalan alternatif”. Kenapa harus menunggu? Ya, karena hampir dapat dipastikan beberapa ruas jalan yang akan saya lewati menjadi area banjir cileuncang, mulai dari ketinggian air semata kaki, sampai sepaha orang dewasa. Terus, kenapa harus bada maghrib? Ya sekedar untuk mendapatkan suasana perjalanan yang sedikit lebih tenang dibanding menjelang maghrib…

Sering sekali ketika terjadi hujan lebat, menyaksikan Jalan Setiabudi menjadi lebih tepat disebut sungai daripada jalan. Saksikan persimpangan Jl Soekarno Hatta – Jl Gedebage – Jl Rumahsakit lebih tepat disebut sebagai situ/danau daripada disebut simpang jalan. Beberapa jalan dari arah utara Ujung Berung seperti berlomba menggelontorkan air ke kawasan di bawahnya daripada menjadi sarana warga berlalu lintas…

Sekarang lebih parah lagi, coba perhatikan kondisi Jl Cipamokolan Riung Bandung, rasanya lebih tepat disebut sebagai dasar sungai yang penuh dengan batu dan lumpur daripada disebut jalan.

Terakhir sekali, suatu malam saya pulang kantor sekitar pukul 19-an, lewat jembatan Paspati. Di ujung timurnya, sebelum tiba di Lapang Gasibu, daerah itu menjadi area banjir cileuncang baru, sampai-sampai sebuah taksi berwarna hijau-biru mogok tidak bisa meneruskan perjalanannya. Alhasil, terjadi antrian di situ….

Kondisi paling parah adalah ketika malam hari, lampu penerangan jalan tidak berfungsi sebagaimana mestinya (alias padam, poek mongkleng kata Urang Sunda mah) di ruas jalan yang berlubang, ditambah dengan hujan yang tanggung, sehingga membuat permukaan jalan menjadi licin. Lengkaplah sudah penderitaan para pengguna jalan di ibukota propinsi yang katanya ingin menjadi mitra terdepan ibukota negara Indonesia ini….

Belum lagi masalah semrawutnya kondisi lalu lintas para pengguna jalan. Kurangnya kesadaran akan keselamatan bersama, bersatu dengan egoisme kepentingan pribadi yang serba ingin cepat sampai, dibumbui dengan ketidaktegasan penegakan aturan, dikombinasikan dengan kondisi jalan seperti adanya saat ini, jangan heran kalau jarak yang seharusnya dapat ditembuh selama 20 menit menjadi harus ditempuh dengan waktu tidak kurang dari setengah jam.

Salut buat warga Kota Bandung yang masih bisa bersabar menghadapi kondisi seperti ini. Semoga kesabaran ini membuahkan ide-ide kreatif untuk dapat menyelesaikan masalah yang ada.

Keterbatasan dana yang selalu dikeluhkan pengelola kota ini, seharusnya tidak menyurutkan langkah untuk perbaikan. Kalaulah waktu sekolah, wali kelas senantiasa berupaya mencari solusi atas permasalahan anak wali di kelasnya, seyogyanyalah wali-nya kota ini membuat suatu gerakan, yang seandainya berhasil, maka akan menjadi ‘titinggal’ yang akan dikenang terus sepanjang masa. Tidak sedikit pemikir dimiliki Kota Bandung. Tidak sedikit institusi pendidikan teknik hadir di kota ini. Luar biasa besarnya perputaran dana di kota ini. Tidak sedikit usahawan yang meraup untung dan hidup di sini. Satu sentuhan yang tepat, rasanya dapat membangkitkan semangat warga kota ini untuk bersama-sama berkontribusi mengembalikan citra ibukota propinsi sebagai kota terbaik di Jawa Barat, bahkan mungkin di Indonesia.

Buktikan bahwa di kota ini hadir pemimpin yang mampu memimpin dan didukung warganya, buktikan bahwa di kota ini banyak ahli-ahli teknologi yang siap berkontribusi tanpa harus kehilangan waktunya yang berharga, buktikan bahwa di kota ini masih banyak pengusaha yang care terhadap perbaikan kotanya tanpa harus kehilangan kesempatan meraih keuntungan lebih banyak…. buktikan bahwa semua itu mungkin dilakukan….

Hanya satu yang diperlukan untuk semua itu, kesungguhan dari semua pihak untuk menuju Bandung yang lebih baik….

Catatan: sekarang sudah di awal Bulan Maret 2025. Bagaimana keadaan Kota Bandung?

First Trip to Wamena.. (end..)

Landscape sepanjang perjalanan dari kota menuju Ku-Rulu sungguh menakjubkan. Ini adalah salah satu setting yang ingin sekali saya kunjungi, walau hanya dalam waktu yang relatif singkat. Alhamdulillah…

Karena keasyikan, kami harus kembali ke kota dalam kondisi hujan-hujanan. Lengkap sudah pengalaman di Wamena ini. Panas, dingin, kehujanan, sehingga malam harinya harus tidur tanpa jaket dan kaus tangan. Beruntung masih ada tiga baju yang dapat dipakai bersamaan sehingga tidak terlalu dingin.

Hari Rabu pagi, kami sudah standby di bandara Wamena sesuai arahan dari kawan yang mengurus tiket kami. Tanpa jaket saya diantar kawan menembus dinginnya kabut Wamena. Tiba di bandara rupanya pengantar tiket belum datang, mungkin karena dia tahu bahwa tidak mungkin berangkat dalam kondisi berkabut seperti itu. Menjelang pukul 08.00, bandara dipenuhi oleh hampir semuanya turis asing. Katanya ada yang dari Belanda, ada dari Rusia, Perancis, China, Jepang, dll.

Mudah-mudahan akan ada kesempatan lain mengunjungi Wamena, supaya dapat melihat langsung mummi salah satu kepala suku di sini, yang katanya berada di lokasi yang kami lewati ketika menuju lokasi festival kemarin.

Akhirnya, setelah menunggu kabut pergi selama sekitar 3 jam, kamipun berangkat menuju Jayapura untuk selanjutnya berangkat ke Jakarta dan diteruskan ke Bandung lewat darat…

First Trip to Wamena.. (cont..)

Rupanya hotel-hotel di Wamena saat itu sudah penuh dipesan oleh tamu, terutama sehubungan kegiatan Festival Lembah Baliem, yang merupakan agenda tahunan Wamena. Beruntung kami masih mendapat kamar di Hotel Wamena di daerah Hom-hom, tidak begitu jauh dari Bandara. Lumayanlah untuk kondisi seperti itu. Tanpa AC karena memang daerahnya dingin sekali, dan tidak terlalu ramai karena pada umumnya memang Wamena tidak terlalu ramai. Tiba di hotel disambut sayup-sayup suara adzan penanda waktu asar telah tiba. SubhanAllah, terharu mendengarnya…

Setelah beristirahat sejenak, beres-beres, kamipun berkumpul untuk membahas agenda kegiatan selama di Wamena. Setelah selesai, masing-masing kembali ke kamar untuk sekedar beristirahat setelah perjalanan panjang dari Bandung sampai Wamena. Saking capeknya, baru terbangun menjelang pukul 20.00 dan menikmati santap malam bersama tanpa lepas jaket tebal dan minuman hangat.

Ada satu rahasia supaya tidak terlalu kedinginan di Wamena, yaitu memaksakan diri mandi dengan air dingin. Terbukti tubuh menjadi sedikit lebih kuat setelah mandi air dingin, tanpa harus berjaket tebal ria ke luar ruangan.

Setelah agenda pekerjaan selesai, kebetulan Hari Selasa masih ada waktu longgar sebelum kembali ke Jayapura, kami menyempatkan diri pergi ke Ku-Rulu, lokasi tempat Festival Lembah Baliem diadakan. Rupanya lumayan jauh juga dari kotanya. Perjalanan lebih dari setengah jam kami tempuh sebelum akhirnya tiba di lapangan. Acara yang dimulai Hari Senin tersebut terutama menampilkan berbagai kegiatan keseharian suku-suku yang ada di Kawasan Lembah Baliem. Atraksi terjun payung atlet nasional asal Wamena dari salah satu tebing menarik antusiasme pengunjung yang mayoritas adalah warga setempat. Mereka berebutan mendekati titik pendaratan sambil bersuara riuh rendah.

Rupanya kegiatan festival ini ‘dijual’ di luar negeri. Terlihat tidak sedikit turis asing yang duduk di tribun maupun di tengah lapang, mengikuti acara yang memang disediakan panitia untuk mereka, sehingga mereka merasa terlibat dalam festival ini, tidak sekedar menonton. Kami, turis lokal gratisan yang berdiri di dekat mereka sempat diminta dengan hormat untuk memisahkan diri dari kelompok turis asing ini (padahal tidak ada arahan di mana pengunjung harus dan boleh berdiri).

Bahkan kabarnya ada beberapa turis yang memutuskan untuk memasang tenda di lokasi festival karena tidak mendapat kamar di hotel.

Ada beberap atraksi yang sempat kami saksikan. Dan berada diantara para koteka-ers (ini sih bahasa saya sendiri) membuat saya sedikit risih. Ya, risih karena saya menggunakan jaket tebal masih merasa kedinginan sementara mereka hanya mengenakan koteka biasa-biasa saja, kedua risih karena melihat kondisi mereka yang tidak mengenakan busana seperti layaknya orang-orang yang sering dijumpai di berbagai tempat lainnya.

Ada beberapa pemandangan yang cukup lucu, bagaimana para bapak yang mengenakan koteka tadi, karena tidak membawa kantong terpaksa harus ‘mengikatkan’ kantong plastik berisi rokok di bagian belakang. Sambil malu-malu akhirnya saya ambil beberapa potret dengan mereka, dan sempat merekam video kegiatan ‘perang-perangan’ mereka.

(bersambung)….

First Trip to Wamena..

… sepenggal cerita di awal Ramadhan 1431…

Pemberitahuan mendadak untuk berangkat ke Papua bukan hal yang asing, karena Papua adalah daerah yang cukup sering dikunjungi. Tetapi kali ini diminta berangkat ke Wamena, yang katanya dingin sekali karena berada di kawasan Pegunungan Jayawijaya. Karena ini saya mencoba mencari informasi dari kawan-kawan yang pernah datang ke daerah ini, dan kesimpulannya, daerah ini memang dingin sekali, perlu persiapan supaya dapat beraktifitas dengan nyaman di sana.

Berbekal jaket tebal plus kupluk-nya, kaos kaki tebal, celana hangat, dll akhirnya saya merasa cukup siap untuk berangkat ke Wamena. Kami berangkat dengan pesawat Garuda dari Cengkareng pukul 23.55 menuju Jayapura.

Kawan yang mengatur keberangkatan mendapatkan tiket bis Primajasa terakhir, pukul 16.00 dari BSM (Bandung Super Mall). Tadinya saya pikir ada alternatif lain dengan travel, tapi entahlah, yang penting akhirnya kami tiba di Cengkareng pada hari Sabtu malam pukul 20.00 setelah melewati kemacetan di toll kota karena ada sebuah Suzuki Carry terguling di salah satu ruas.

Transit di Makassar dan Biak, saya putuskan untuk tidak turun dari pesawat, karena ingin menikmati menit demi menit waktu istirahat. Shalat subuh-pun dilakukan sambil terbang sebelum akhirnya pesawat tiba di Sentani pukul 10.00. Rupanya jam kedatangan pesawat ini tidak pas dengan jam keberangkatan Trigana Air yang sudah dipesan. Karena begitu kami landing, penumpang pesawat tersebut sudah mulai boarding. Alhasil kami harus menunggu pesawat berikutnya.

Kawan saya menuju loket Trigana, menunjukkan bukti booking tiket, dan kemudian dengan ramah petugas memberikan tiket sehingga kami dapat berangkat dengan penerbangan berikutnya, yang dijadwalkan pukul 13.00. Cek-in merupakan cerita tersendiri, perlu perjuangan tersendiri supaya tidak sampai tertunda hanya gara-gara para penumpang yang tidak mau tertib antri, ditambah para ‘penolong’ yang seperti berlomba mengutamakan kepentingan klien-nya.

Begitulah kondisi penerbangan di Papua. Manakala kondisi cuaca baik, maka penerbangan yang rencananya hanya dilakukan satu kali, akhirnya dilakukan beberapa kali, sehingga penumpang yang terangkut menjadi banyak sekali. Mungkin karena di Wamena ada agenda Festival Lembah Baliem sehingga banyak sekali penumpang menuju ke sana, terutama turis-turis asing.
Kami boarding pukul 13.45, dan take off pukul 14.00. Karena ini adalah perjalanan pertama ke Wamena, saya meminta supaya dapat duduk di bagian yang berdekatan dengan jendela. Lucu memang karena seat-nya bisa bebas pilih, tidak berdasarkan nomor duduk seperti lazimnya penerbangan reguler lainnya.

Awalnya tidak terlalu memperhatikan karena pemandangan Danau Sentani sudah sering dilihat. Akan tetapi ketika memasuki kawasan pegunungan, akhirnya saya tergerak untuk merekam pemandangan walaupun dengan peralatan kamera pocket seadanya.

Sempat merekam beberapa spot yang menarik, diantaranya ketika menyaksikan keberadaan satu-dua rumah yang terletak di daerah terpencil (in the middle of nowhere). Jauh dari mana-mana. “Kok bisa ya ada orang tinggal disitu?” demikian pertanyaan dalam benak saya. Bagaimana material-material bangunan bisa diangkut ke lokasi tersebut tidak perlu lagi saya tanyakan.

Yang paling menarik adalah ketika melewati “Pintu Angin”, suatu daerah di mana pesawat terbang diantara pegunungan, dengan lembah di bagian bawahnya (yang kemudian saya ketahui sebagai kawasan Lembah Baliem). Rona alamnya mirip ketika hendak mendarat di Kota Bandung, akan tetapi bedanya di sini tidak terlihat banyak bangunan. Sungai Baliem yang meliuk-liuk, asap mengepul di satu-dua titik, menunjukkan adanya kehidupan diantara heningnya lembah yang dingin itu.

Akhirnya pesawat mendarat dengan sukses di Bandara Wamena pukul 14.50. Setelah mengambil bagasi, kamipun keluar dari ruang kedatangan, disambut oleh anggota tim yang sudah lebih dulu ditugaskan di Wamena.

(bersambung)….