” …. di sanaa tempat lahir betaa…. dibuaaai dibesarkan bundaa .. ”
Rasanya sebaris lagu tsb cocok untuk menceritakan Ciamis, kota kecil di ujung timur Jawa Barat, tempat pertama kali menghirup udara dunia yang segar, tumbuh, selama sekitar sembilan belas tahun…
Banyak perubahan yang telah terjadi, kawasan ‘kota’ yang bertambah luas, ruas jalan bertambah panjang, kendaraan bertambah banyak, wajah kota yang mulai ‘agak’ berubah seiring dengan keberadaan toko-toko swalayan, dan juga area alun-alun, daerah favorit saya dan anak-anak setiap kali pulang kampung…
Taman raflesia, amphitheater, jogging track, ‘taman pijit refleksi’, air mancur, merupakan elemen-elemen baru yang turut mensukseskan keberadaan pusat Kota Ciamis tersebut, terutama di saat-saat bulan puasa.
Tak ketinggalan pula delman domba, atau sering disingkat deldom, kendaraan khas yang merupakan miniatur delman yang biasanya ditarik oleh kuda, turut memberikan suasana meriah di sana…
Berjuta kenangan yang terlintas setiap kali berada di kota manis ini, kenangan manis tentunya… masa kanak-kanak penuh keceriaan, suasana alam yang masih bersahabat yang alhamdulillah masih dapat dirasakan dan dialami oleh anak-anak kami…
—
Sebenarnya banyak sekali potensi yang dimiliki kabupaten paling timur di propinsi Jawa Barat ini, mulai dari keindahan pantai Karapyak, Karang Nini, Lembah Putri, Pananjung Pangandaran, Pasir Putih, Cagar Alam, Batu Hiu, Batu Karas, sampai Cimerak di bagian pesisir selatan, dan berbagai potensi pertanian dan perkebunan yang ada di bagian utara.
Kecamatan Cimerak, Cijulang, sampai Langkaplancar yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi sentra perikanan, pertanian, perkebunan, dan kehutanan tentunya akan semakin memberikan sumbangan yang signifikan manakala dikelola dengan baik, didukung sarana dan prasana yang terus ditingkatkan sehingga mempermudah aksesibilitas untuk memasarkan berbagai komoditas hasil olahan ke dan dari daerah tersebut.
Padaherang, Kalipucang, Lakbok, tentunya masih dikenal sebagai kawasan pertanian yang cukup luas, walau sudah mulai berkurang tentunya karena tuntutan perubahan yang ada.
(sambungan…)
Minggu, 06 Juli 2008…
Hari Minggu kemaren kami sempet jalan-jalan ke Taman Raflesia. Sambil menunggu maghrib, akhirnya mampir ke jalan deket Swadaya… nah, ni dia fotonya, mungkin temen-temen masih ada yang inget…
Masih terbayang dalam ingatan, masa-masa kecil ketika musim liburan sekolah tiba. Saya dan saudara-saudara yang umurnya hampir sama seringkali berlibur ke Kota Bandung, untuk menikmati suasana lain. Kerja keras untuk mendapatkan nilai terbaik selama satu catur wulan terbayar rasanya dengan liburan di Kota yang dikenal dengan sebutan Paris van Java ini.
Rumah Om yang berada di sekitar Hotel Homann, menjadikan jalan-jalan ke alun-alun di malam hari suatu keharusan, tanpa memerlukan naik kendaraan. Melihat air mancur, bermain dana bercengkrama dengan saudara-saudara di bawah pergola dengan tanaman rambatnya, suasana yang dingin dan kadang berselimut kabut. Para tukang foto yang dengan santun menawarkan jasa foto kilatnya, jajanan khas Kota Bandung. Sungguh menyenangkan….
Hari kedua biasanya diisi dengan kunjungan wajib ke rumah Nenek yang berada di Sukajadi. Rute kendaraan dari bawah jembatan Masjid Agung, ke Jalan Banceuy, Wastukancara dengan batu-batu retaining wall sepanjang jalan, deretan pohon palem di jalan Terusan Pasteur. Sungguh menjadi kenangan yang masih terrekam hingga saat ini.
Jaket, merupakan salah satu yang tidak boleh tertinggal dalam daftar bawaan saya. Karena Kota Bandung masih terasa dingin, apalagi di malam hari. Kunjungan ke Sukajadi harus diselingi dengan mandi dan keramas sepuas-puasnya, sekedar untuk merasakan dinginnya air Kota Bandung waktu itu.
Berjalan kaki di sepanjang Jalan Asia Afrika, merupakan perjalanan yang mengasyikkan bagi anak seusia SD, apalagi terbayang berbagai pilihan sepatu dan pakaian yang sangat beraneka ragam dengan kualitas yang dapat diandalkan untuk dipakai berlebaran.
Tidak pernah terdengar ada cerita banjir, atau macet, tanah longsor, atau angin puting beliung… Selain karena media informasi yang masih sangat terbatas, juga memang karena kejadian semacam itu sangat jarang terjadi…
Tapi… itu dulu….
Coba kita perhatikan dan amati kondisi Kota Bandung saat ini…
Pekan-pekan terakhir ini, kalau bada maghrib saya menelpon ke rumah, informasi pertama dari istri saya adalah, “hujan deras, pulangnya tunggu saja dulu, atau cari jalan alternatif”. Kenapa harus menunggu? Ya, karena hampir dapat dipastikan beberapa ruas jalan yang akan saya lewati menjadi area banjir cileuncang, mulai dari ketinggian air semata kaki, sampai sepaha orang dewasa. Terus, kenapa harus bada maghrib? Ya sekedar untuk mendapatkan suasana perjalanan yang sedikit lebih tenang dibanding menjelang maghrib…
Sering sekali ketika terjadi hujan lebat, menyaksikan Jalan Setiabudi menjadi lebih tepat disebut sungai daripada jalan. Saksikan persimpangan Jl Soekarno Hatta – Jl Gedebage – Jl Rumahsakit lebih tepat disebut sebagai situ/danau daripada disebut simpang jalan. Beberapa jalan dari arah utara Ujung Berung seperti berlomba menggelontorkan air ke kawasan di bawahnya daripada menjadi sarana warga berlalu lintas…
Sekarang lebih parah lagi, coba perhatikan kondisi Jl Cipamokolan Riung Bandung, rasanya lebih tepat disebut sebagai dasar sungai yang penuh dengan batu dan lumpur daripada disebut jalan.
Terakhir sekali, suatu malam saya pulang kantor sekitar pukul 19-an, lewat jembatan Paspati. Di ujung timurnya, sebelum tiba di Lapang Gasibu, daerah itu menjadi area banjir cileuncang baru, sampai-sampai sebuah taksi berwarna hijau-biru mogok tidak bisa meneruskan perjalanannya. Alhasil, terjadi antrian di situ….
Kondisi paling parah adalah ketika malam hari, lampu penerangan jalan tidak berfungsi sebagaimana mestinya (alias padam, poek mongkleng kata Urang Sunda mah) di ruas jalan yang berlubang, ditambah dengan hujan yang tanggung, sehingga membuat permukaan jalan menjadi licin. Lengkaplah sudah penderitaan para pengguna jalan di ibukota propinsi yang katanya ingin menjadi mitra terdepan ibukota negara Indonesia ini….
Belum lagi masalah semrawutnya kondisi lalu lintas para pengguna jalan. Kurangnya kesadaran akan keselamatan bersama, bersatu dengan egoisme kepentingan pribadi yang serba ingin cepat sampai, dibumbui dengan ketidaktegasan penegakan aturan, dikombinasikan dengan kondisi jalan seperti adanya saat ini, jangan heran kalau jarak yang seharusnya dapat ditembuh selama 20 menit menjadi harus ditempuh dengan waktu tidak kurang dari setengah jam.
Salut buat warga Kota Bandung yang masih bisa bersabar menghadapi kondisi seperti ini. Semoga kesabaran ini membuahkan ide-ide kreatif untuk dapat menyelesaikan masalah yang ada.
Keterbatasan dana yang selalu dikeluhkan pengelola kota ini, seharusnya tidak menyurutkan langkah untuk perbaikan. Kalaulah waktu sekolah, wali kelas senantiasa berupaya mencari solusi atas permasalahan anak wali di kelasnya, seyogyanyalah wali-nya kota ini membuat suatu gerakan, yang seandainya berhasil, maka akan menjadi ‘titinggal’ yang akan dikenang terus sepanjang masa. Tidak sedikit pemikir dimiliki Kota Bandung. Tidak sedikit institusi pendidikan teknik hadir di kota ini. Luar biasa besarnya perputaran dana di kota ini. Tidak sedikit usahawan yang meraup untung dan hidup di sini. Satu sentuhan yang tepat, rasanya dapat membangkitkan semangat warga kota ini untuk bersama-sama berkontribusi mengembalikan citra ibukota propinsi sebagai kota terbaik di Jawa Barat, bahkan mungkin di Indonesia.
Buktikan bahwa di kota ini hadir pemimpin yang mampu memimpin dan didukung warganya, buktikan bahwa di kota ini banyak ahli-ahli teknologi yang siap berkontribusi tanpa harus kehilangan waktunya yang berharga, buktikan bahwa di kota ini masih banyak pengusaha yang care terhadap perbaikan kotanya tanpa harus kehilangan kesempatan meraih keuntungan lebih banyak…. buktikan bahwa semua itu mungkin dilakukan….
Hanya satu yang diperlukan untuk semua itu, kesungguhan dari semua pihak untuk menuju Bandung yang lebih baik….
Catatan: sekarang sudah di awal Bulan Maret 2025. Bagaimana keadaan Kota Bandung?
Landscape sepanjang perjalanan dari kota menuju Ku-Rulu sungguh menakjubkan. Ini adalah salah satu setting yang ingin sekali saya kunjungi, walau hanya dalam waktu yang relatif singkat. Alhamdulillah…
Karena keasyikan, kami harus kembali ke kota dalam kondisi hujan-hujanan. Lengkap sudah pengalaman di Wamena ini. Panas, dingin, kehujanan, sehingga malam harinya harus tidur tanpa jaket dan kaus tangan. Beruntung masih ada tiga baju yang dapat dipakai bersamaan sehingga tidak terlalu dingin.
Hari Rabu pagi, kami sudah standby di bandara Wamena sesuai arahan dari kawan yang mengurus tiket kami. Tanpa jaket saya diantar kawan menembus dinginnya kabut Wamena. Tiba di bandara rupanya pengantar tiket belum datang, mungkin karena dia tahu bahwa tidak mungkin berangkat dalam kondisi berkabut seperti itu. Menjelang pukul 08.00, bandara dipenuhi oleh hampir semuanya turis asing. Katanya ada yang dari Belanda, ada dari Rusia, Perancis, China, Jepang, dll.
Mudah-mudahan akan ada kesempatan lain mengunjungi Wamena, supaya dapat melihat langsung mummi salah satu kepala suku di sini, yang katanya berada di lokasi yang kami lewati ketika menuju lokasi festival kemarin.
Akhirnya, setelah menunggu kabut pergi selama sekitar 3 jam, kamipun berangkat menuju Jayapura untuk selanjutnya berangkat ke Jakarta dan diteruskan ke Bandung lewat darat…
Rupanya hotel-hotel di Wamena saat itu sudah penuh dipesan oleh tamu, terutama sehubungan kegiatan Festival Lembah Baliem, yang merupakan agenda tahunan Wamena. Beruntung kami masih mendapat kamar di Hotel Wamena di daerah Hom-hom, tidak begitu jauh dari Bandara. Lumayanlah untuk kondisi seperti itu. Tanpa AC karena memang daerahnya dingin sekali, dan tidak terlalu ramai karena pada umumnya memang Wamena tidak terlalu ramai. Tiba di hotel disambut sayup-sayup suara adzan penanda waktu asar telah tiba. SubhanAllah, terharu mendengarnya…
Setelah beristirahat sejenak, beres-beres, kamipun berkumpul untuk membahas agenda kegiatan selama di Wamena. Setelah selesai, masing-masing kembali ke kamar untuk sekedar beristirahat setelah perjalanan panjang dari Bandung sampai Wamena. Saking capeknya, baru terbangun menjelang pukul 20.00 dan menikmati santap malam bersama tanpa lepas jaket tebal dan minuman hangat.
Ada satu rahasia supaya tidak terlalu kedinginan di Wamena, yaitu memaksakan diri mandi dengan air dingin. Terbukti tubuh menjadi sedikit lebih kuat setelah mandi air dingin, tanpa harus berjaket tebal ria ke luar ruangan.
Setelah agenda pekerjaan selesai, kebetulan Hari Selasa masih ada waktu longgar sebelum kembali ke Jayapura, kami menyempatkan diri pergi ke Ku-Rulu, lokasi tempat Festival Lembah Baliem diadakan. Rupanya lumayan jauh juga dari kotanya. Perjalanan lebih dari setengah jam kami tempuh sebelum akhirnya tiba di lapangan. Acara yang dimulai Hari Senin tersebut terutama menampilkan berbagai kegiatan keseharian suku-suku yang ada di Kawasan Lembah Baliem. Atraksi terjun payung atlet nasional asal Wamena dari salah satu tebing menarik antusiasme pengunjung yang mayoritas adalah warga setempat. Mereka berebutan mendekati titik pendaratan sambil bersuara riuh rendah.
Rupanya kegiatan festival ini ‘dijual’ di luar negeri. Terlihat tidak sedikit turis asing yang duduk di tribun maupun di tengah lapang, mengikuti acara yang memang disediakan panitia untuk mereka, sehingga mereka merasa terlibat dalam festival ini, tidak sekedar menonton. Kami, turis lokal gratisan yang berdiri di dekat mereka sempat diminta dengan hormat untuk memisahkan diri dari kelompok turis asing ini (padahal tidak ada arahan di mana pengunjung harus dan boleh berdiri).
Bahkan kabarnya ada beberapa turis yang memutuskan untuk memasang tenda di lokasi festival karena tidak mendapat kamar di hotel.
Ada beberap atraksi yang sempat kami saksikan. Dan berada diantara para koteka-ers (ini sih bahasa saya sendiri) membuat saya sedikit risih. Ya, risih karena saya menggunakan jaket tebal masih merasa kedinginan sementara mereka hanya mengenakan koteka biasa-biasa saja, kedua risih karena melihat kondisi mereka yang tidak mengenakan busana seperti layaknya orang-orang yang sering dijumpai di berbagai tempat lainnya.
Ada beberapa pemandangan yang cukup lucu, bagaimana para bapak yang mengenakan koteka tadi, karena tidak membawa kantong terpaksa harus ‘mengikatkan’ kantong plastik berisi rokok di bagian belakang. Sambil malu-malu akhirnya saya ambil beberapa potret dengan mereka, dan sempat merekam video kegiatan ‘perang-perangan’ mereka.
Pemberitahuan mendadak untuk berangkat ke Papua bukan hal yang asing, karena Papua adalah daerah yang cukup sering dikunjungi. Tetapi kali ini diminta berangkat ke Wamena, yang katanya dingin sekali karena berada di kawasan Pegunungan Jayawijaya. Karena ini saya mencoba mencari informasi dari kawan-kawan yang pernah datang ke daerah ini, dan kesimpulannya, daerah ini memang dingin sekali, perlu persiapan supaya dapat beraktifitas dengan nyaman di sana.
Berbekal jaket tebal plus kupluk-nya, kaos kaki tebal, celana hangat, dll akhirnya saya merasa cukup siap untuk berangkat ke Wamena. Kami berangkat dengan pesawat Garuda dari Cengkareng pukul 23.55 menuju Jayapura.
Kawan yang mengatur keberangkatan mendapatkan tiket bis Primajasa terakhir, pukul 16.00 dari BSM (Bandung Super Mall). Tadinya saya pikir ada alternatif lain dengan travel, tapi entahlah, yang penting akhirnya kami tiba di Cengkareng pada hari Sabtu malam pukul 20.00 setelah melewati kemacetan di toll kota karena ada sebuah Suzuki Carry terguling di salah satu ruas.
Transit di Makassar dan Biak, saya putuskan untuk tidak turun dari pesawat, karena ingin menikmati menit demi menit waktu istirahat. Shalat subuh-pun dilakukan sambil terbang sebelum akhirnya pesawat tiba di Sentani pukul 10.00. Rupanya jam kedatangan pesawat ini tidak pas dengan jam keberangkatan Trigana Air yang sudah dipesan. Karena begitu kami landing, penumpang pesawat tersebut sudah mulai boarding. Alhasil kami harus menunggu pesawat berikutnya.
Kawan saya menuju loket Trigana, menunjukkan bukti booking tiket, dan kemudian dengan ramah petugas memberikan tiket sehingga kami dapat berangkat dengan penerbangan berikutnya, yang dijadwalkan pukul 13.00. Cek-in merupakan cerita tersendiri, perlu perjuangan tersendiri supaya tidak sampai tertunda hanya gara-gara para penumpang yang tidak mau tertib antri, ditambah para ‘penolong’ yang seperti berlomba mengutamakan kepentingan klien-nya.
Begitulah kondisi penerbangan di Papua. Manakala kondisi cuaca baik, maka penerbangan yang rencananya hanya dilakukan satu kali, akhirnya dilakukan beberapa kali, sehingga penumpang yang terangkut menjadi banyak sekali. Mungkin karena di Wamena ada agenda Festival Lembah Baliem sehingga banyak sekali penumpang menuju ke sana, terutama turis-turis asing. Kami boarding pukul 13.45, dan take off pukul 14.00. Karena ini adalah perjalanan pertama ke Wamena, saya meminta supaya dapat duduk di bagian yang berdekatan dengan jendela. Lucu memang karena seat-nya bisa bebas pilih, tidak berdasarkan nomor duduk seperti lazimnya penerbangan reguler lainnya.
Awalnya tidak terlalu memperhatikan karena pemandangan Danau Sentani sudah sering dilihat. Akan tetapi ketika memasuki kawasan pegunungan, akhirnya saya tergerak untuk merekam pemandangan walaupun dengan peralatan kamera pocket seadanya.
Sempat merekam beberapa spot yang menarik, diantaranya ketika menyaksikan keberadaan satu-dua rumah yang terletak di daerah terpencil (in the middle of nowhere). Jauh dari mana-mana. “Kok bisa ya ada orang tinggal disitu?” demikian pertanyaan dalam benak saya. Bagaimana material-material bangunan bisa diangkut ke lokasi tersebut tidak perlu lagi saya tanyakan.
Yang paling menarik adalah ketika melewati “Pintu Angin”, suatu daerah di mana pesawat terbang diantara pegunungan, dengan lembah di bagian bawahnya (yang kemudian saya ketahui sebagai kawasan Lembah Baliem). Rona alamnya mirip ketika hendak mendarat di Kota Bandung, akan tetapi bedanya di sini tidak terlihat banyak bangunan. Sungai Baliem yang meliuk-liuk, asap mengepul di satu-dua titik, menunjukkan adanya kehidupan diantara heningnya lembah yang dingin itu.
Akhirnya pesawat mendarat dengan sukses di Bandara Wamena pukul 14.50. Setelah mengambil bagasi, kamipun keluar dari ruang kedatangan, disambut oleh anggota tim yang sudah lebih dulu ditugaskan di Wamena.
Antara percaya dan tidak ketika membaca salah satu pesan melalui WA. Tertulis namanya sebagaimana terrekam di phonebook: Prof. Slamet Wirasonjaya…. Betapa tidak, karena isinya menginformasikan bahwa beliau meninggal. Pengirim pesan adalah salahsatu putranya….
Rasa belum percaya, memanggil memori tentang beliau, sejak mulai kenal, selama menjadi asisten dosen, menjadi mahasiswa beliau, thesis, dan beberapa diskusi di IALI….
Ah, hanya kebaikan beliau yang terrekam…
Berikut adalah kumpulan kesan-kesan tentang almarhum, dari rekan2 kelas ABA ’99 (Alur Studi Arsitektur Bentang Alam tahun 1999, Prodi Magister Arsitektur ITB). Tulisan ini adalah salahsatu bentuk hormat kami kepada beliau dan juga keluarga yang ditinggalkan….
Hanif Budiman
Slamet Wirasonjaya, mendengar nama itu, sebagian besar akademisi, praktisi bidang arsitektur atau lansekap di Indomesia (terutama yang senior), tentu akan terbayang pada sosok pria yang telah menghasilkan karya- karya fenomenal. Pengenalan saya pada sosok Prof Slamet Wirasonjaya, terjadi dalam waktu yang singkat, selama saya memilih program pasca sarjana ITB jalur Arsitektur Bentang Alam. Seseorang alumni ITB memberitahu sebelumnya, bahwa pada jalur itu ada gurubesar yang sangat disegani. Dan setelah bertemu, berdiskusi, mengikuti aktifikas beliau di kampus dan di kantor konsultan beliau, cukup terbukti bahwa beliau sosok yang luar biasa.
Secara personal, cukup dapat dimaklumi bahwa beliau sosok yang lebih banyak mengekspresikan gagasan dengan gambar dan karya, bukan dengan kata-kata. Tanggapan dan diskusi sering diungkapkan dengan bahasa yang lugas. Namun begitu, beliau sosok yang sangat respek dan sangat menjunjung etika serta performance, suatu nilai yang masih sangat relevan untuk ditekankan dan untuk mengimbangi arus zaman modern yang sangat liberal, bebas dan cair ini.
Secara akademik, catatan sangat penting dari beliau adalah pentingnya memahami ruang secara utuh keseluruhan ketika kita merancang dan membangun. Tidak perlu ada dikotomi ruang luar ruang dalam, tidak ada pemisahan arsitektur dan lansekap, ketika kita akan merancang bangunan pada suatu lingkungan. Kegelisahan beliau pada hilangnya sensitifitas rancangan ruang kontemporer saat ini pada nilai- nilai kearifan lokal, sangat terihat dari beberapa kali diskusi. Dimulai dari perlunya kita selalu memahami karakter lingkungan tropis nusantara, kebiasaan nenek moyang yang berakar pada keluhuran alam dan budaya, hingga kebiasaan – kebiasaan masyarakat, sangat beliau ditekankan dalam proses perancangan. ´´ Mau tidak mau, suka tidak suka, masyarakat jawa itu adalah masyarakat agraris dengan pengaruh ´hindu´nya cukup kuat ´´, suatu ungkapan yang masih terngiang dari beliau dalam suatu kuliah sejarah arsitektur bentang alam. Pemahaman beliau pada sejarah juga sangat kuat. Cerita menarik yang masih saya ingat adalah, pada era pasca renaissance, terjadi fenomena dimana ruang luar dan taman telah dirancang dengan baik dan bagus, ketika itu justeru bangunan – bangunan saat itu yang belum dan tidak disiapkan dengan baik untuk dapat mengimbanginya.
Dari sosok beliau, sebagai seorang arsitek, saya lebih memahami arsitektur justeru dari berbagai diskusi tentang kajian arsitektur lansekap. Dan saya ( semoga ) lebih memahami bagaimana memahami disain tanpa terkotak pada skala ruang, bangunan, kawasan atau bahkan kota. Hal inilah yang menjadi catatan sangat penting bagi ilmu perancangan secara keseluruhan. Saat ini, semakin terasa, betapa sangat gamang dan galau situasi dan kondisi ilmu rancangan arsitektur dan lansekap, ketika berhadapan dengan ilmu perencanaan kota dan infrastruktur misalnya, apalagi ketika ia berhadapan dengan ilmu umum lainnya.
Akhirnya, jikalah kita memang peduli dengan tantangan bidang perancangan dan perencanaan arsitektur atau lansekap di Indonesia, dan masih akan melanjutkan pemikiran besar Prof Slamet Wirasonjaya, maka ada baiknya kita terus mendiskusikan atau bahkan wajib mengaktualisasikannya secara sistematis agar dapat bermanfaat lebih luas bagi masyarakat. Semoga pemikiran beliau semakin membumi dalam diskusi, konsep dan aplikasi aplikasi nyata proses perencanaan dan perancangan keruangan nusantara.
Istanbul, 3 November 2016
Tigor Panjaitan
Figur Pak Slamet Wirasonjaya yang saya kenal sangat berbeda dengan cerita yang saya dengar. Sosok yang dikabarkan galak dan tidak kompromi ini ternyata sangat sabar dan menjadi teman berdiskusi yang asik.
Saya masih ingat saat kuliah akan dimulai, namun baru saya yang hadir. Maka beliau meminta saya memanggil teman-teman agar berkumpul terlebih dahulu sebelum kuliah dimulai. Saya bisa melihat kepedulian yang sangat tinggi agar tidak satu pun dari kami yang ketinggalan informasi.
Selama menempuh studi pasca sarjana, wawasan saya tentang lansekap semakin terbuka. Beliau tidak langsung mengajarkan kami tentang desain, sekalipun saya sangat berharap bisa langsung corat coret kertas di studio. Tetapi dia mengajak kami duduk manis sembari mendengarkan sejarah lansekap dan segala filosofi yang melatarbelakanginya. Suatu kegiatan yang sangat membosankan rasanya. Kegiatan tersebut berlangsung dari hari ke hari, minggu ke minggu.
Namun, kebosanan itu pun lambat laun pupus. Saya semakin memahami esensi dasar dari lansekap. Ternyata lansekap tidak sekedar berbicara estetika, namun juga makna yang terkandung didalamnya. Lansekap punya cerita dan bahkan jiwa.
Selamat jalan pak Slamet Wirasonjaya…. terima kasih sudah mengajarkanku untuk bersabar dan memahami lansekap terlebih dahulu sebelum aku menggoreskan mata pensilku di atas kertas. Semoga ilmu yang sudah kau berikan kepada kami bisa berguna buat masyarakat dan lingkungan.
Rahman Andra Wijaya
Pengaruh Slamet Wirasonjaya Pada 25299029
Seolah dewa, Pak Slamet Wirasonjaya menggetarkan banyak hati di lingkungan kampus Arsitektur Lansekap Trisakti. Beliau adalah guru dari sebagian besar pengajar saya, guru dari banyak orang yang saya hormati. Dengan kondisi demikian saya menganalogikan posisi beliau sebagai Kakek Guru, bahkan Kakek Buyut Guru, saya kecil dihadapannya.
Perjumpaan pertama – kalau layak disebut perjumpaan – adalah saat acara seminar nasional di Jakarta Design Centre sekitar tahun 1996. Terus terang mendengar paparan beliau di acara itu tidak memberi kesan yang mendalam, malah cenderung bingung bagaimana isi paper yang sedianya dibawakan berbeda dengan apa yang beliau sampaikan dalam acara. Yang justru memberikan kesan mendalam adalah bagaimana sikap guru guru saya dalam membantu menghubungi beliau; menerima kehadiran beliau; dan berinteraksi dengan beliau.
Jalan takdirlah yang membuka kesempatan untuk belajar di kampus ITB, dan belajar langsung dari beliau. Tidak jauh berbeda dari situasi di kampus trisakti, aura Pak Slamet pekat membungkus lingkungan kampus. Praktis hanya 3 semester saya berinteraksi secara kolektif – bersama rekan rekan Alur Arsitektur Bentang Alam 99 yang isinya cuma 5 orang – dengan beliau, karena di semester 1 belum ada mata kuliah asuhan beliau. Kenapa kolektif ? Karena saya ga berani ketemu beliau sendirian 😀 – aura kursi kebesaran itu masih lekat di ingatan.
Dalam 3 semester itu; saya bisa melihat kepingan kepingan bidang ilmu yang digeluti guru guru saya membentuk sebuah mosaik utuh pada diri Pak Slamet. Yang paling jelas tampak adalah kepingan bidang sejarah yang digeluti oleh Ibu Jusna M. Amin, kepingan bidang perancangan yang digeluti oleh Pak S. Raharjo, kepingan bidang lingkungan yang digeluti Ibu Sri Hartiningsi Purnomohadi (RIP).
Satu kata penting yang masih membekas adalah PENGARUH. Bagaimana segala sesuatu memberi dan menerima pengaruh. Gara gara kata ini, saya membedah Hypnerotomachia Poliphili; dan menemukan pengaruhnya pada banyak hal, termasuk taman taman di masa renaissance.
Satu pemahaman penting yang masih membekas adalah semua (bentukan) desain, sudah pernah dirancang, dipikirkan, dan dibuat oleh pendahulu kita. Jangan pernah berfikir kita membuat sebuah bentuk baru – kita hanya mendaur ulang bentuk dan memberi konteks yang baru.
Satu topik penting yang masih membekas adalah Demokratisasi Taman. Bagaimana beliau memandang bahwa taman harus bisa menjangkau semua lapisan. Bukan kita yang mendatangi taman, tapi taman yang mendatangi kita. Taman tentu tidak bisa mendatangi kita, tapi sebagai arsitek lansekap; kita punya peran untuk membuat taman hadir di mana mana; dalam berbagai wujud manifestasinya.
Saya tidak yakin beliau ingat dengan saya; tapi itu tidak penting; karena lebih penting saya dan kita ingat dengan seluruh jasa, karsa, dan karya beliau.
Selamat jalan Pak Slamet…..
4 November 2016
Doni Fireza
KESAN MENDALAM TERHADAP BAPAK
Mengenal Prof. Ir. Slamet Wirasonjaya, MLA adalah suatu pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Bapak (biasa beliau membahasakan dirinya kepada para muridnya), adalah pribadi yang sangat meninggalkan kesan mendalam dalam hidup saya. Ada tiga periode yang sangat berkesan bagi saya akan Bapak, diluar banyaknya kesan-kesan akan Bapak yang pernah saya dapatkan.
Pertama saat masih menjadi mahasiswa di ITB langsung dibawah bimbingan Bapak. Banyak orang yang menganggap Bapak adalah dosen yang “angker” atau “killer”. Banyak juga mitos yang beredar tentang kegalakan Bapak. Tapi menurut kami (saya dan 4 kawan seangkatan), Bapak itu hanya bersikap disiplin dan konsekwen dengan prinsip dalam kebersahajaannya. Sesuatu yang mungkin tidak banyak dipahami orang lain, karena Bapak memang dikenal tidak banyak bicara yang tidak perlu.
Bapak bahkan seringkali berjalan kaki dari kampus di Jl. Ganesha menuju kantor Arsiplan di Jl. Dipati Ukur. Jarak yang cukup jauh apabila ditempuh berjalan kaki untuk orang seusia Bapak saat itu, apalagi dengan rute yang menanjak. Beberapa kali kami menawarkan mengantar Bapak karena sungkan melihat Bapak berjalan kaki, sementara kami menyetir mobil sendiri. Sekaligus kepingin melihat dari dekat bagaimana cara kerja Bapak sebagai seorang arsitek di kantornya. Dan Bapakpun senang hati menerima ajakan kami.
Hal-hal ini yang ternyata malah menjadikan kami cukup dekat dengan Bapak selama masa studi di Bandung. Suatu hal yang saat itu dianggap tidak lazim karena banyak orang yang cenderung menghindar dari Bapak, sementara kami berlima malahan meminta Bapak untuk menjadi pembimbing thesis kami. Dengan cara ini saya bisa lebih mengenal Bapak lebih dalam, dan menjadi inspirasi saya lewat cerita-cerita dan pengalaman-pengalamannya melanglang buana mengunjungi karya-karya arsitektur di dunia. Sesuatu yang selalu menjadi keinginan saya sampai saat ini.
Berikutnya kesan saya dengan Bapak adalah setelah 6 tahun lulus dari ITB. Saat itu saya sedang menyelesaikan buku pertama saya tentang arsitektur lansekap, dan meminta kesediaan Bapak untuk memberikan pengantar untuk buku tersebut. Diluar dugaan Bapak bersedia dengan senang hati, walaupun proses tersebut dilakukan via e-mail, tapi Bapak sangat menepati janjinya untuk mengirimkan draft naskahnya sesuai dengan waktu yang dijanjikan. Disaat buku tersebut rampung dan terbit, saya berangkat ke Bandung untuk sowan ke rumah Bapak di Taman Cibeunying untuk memberikan satu exemplar buku tersebut. Begitu diterima, Bapak langsung memegang buku tersebut dan mendekatkan ke kepalanya seakan-akan seperti “menyembah”, yang bisa saya artikan Bapak seperti memuliakan hasil kerja saya tersebut. Bapak berkata, seberapapun sederhana isi suatu buku , tapi kontribusinya terhadap keilmuan sangat besar. Dan ini perlu kita hargai setinggi-tingginya. Suatu kehormatan untuk saya.
Terakhir kesan saya tentang Bapak terjadi awal tahun 2016 ini. Bapak sudah lama pensiun. Saya sudah mengajar di suatu PTS di Jakarta Barat. Dalam tugas matakuliah saya, beberapa mahasiswa ingin mengangkat bahasan tentang Bapak sebagai maestro arsitektur di Indonesia. Saya menawarkan mengantar mereka bertemu dengan Bapak. Bapak merespon dengan senang hati, dan bersedia menerima kami di rumah. Suatu pagi kami berangkat ke Cimahi untuk bertemu Bapak. Sempat nyasar, tetapi Bapak berinisiatif menelpon saya untuk menanyakan sudah sampai mana dan memberikan ancer-ancer jalan ke rumah beliau. Tidak disangka, ternyata Bapak menunggu kami kenapa kok tidak sampai-sampai ke rumahnya.
Di rumah, mahasiswa saya berdialog dengan Bapak dalam suasana yang hangat. Bapak bercerita dan memberikan nasehat dan mengajarkan kami layaknya kakek ke cucu-cucunya. Mahasiswa saya sangat terkesan dengan kebersahajaan Bapak. Mereka sempat menyangka bahwa Bapak adalah figur yang flamboyan layaknya figur-figur arsitek terkenal yang mereka lihat, tapi kenyataannya Bapak sangat sederhana. Banyak pengetahuan yang diberikan kepada kami. Suatu kunjungan singkat yang sangat inspiratif, dan suatu kehormatan yang sangat besar bisa berdialog dengan Bapak dengan suasana yang sangat informal, hangat, dan santai di siang hari yang dingin karena turun hujan di Cimahi.
Mengenal Bapak selama ini adalah suatu kehormatan bagi saya. Dan saya dengan bangga bisa berkata, bahwa saya adalah murid Prof. Slamet Wirasonjaya, seorang arsitek dan arsitek lansekap besar yang Indonesia pernah punya.
Selamat jalan Bapak… Terimakasih atas bimbingan dan inspirasinya selama ini.
Dian Heri Sofian
Pertama mengenal sosok Prof Slamet Wirasonjaya adalah ketika masih kuliah di semester 8, mata kuliah pilihan Pengantar Arsitektur Lansekap. Prof. Slamet Wirasonjaya dengan asisten Ibu Ir. RR Dhian Damajani, MT, mengenalkan tentang lansekap, apa, bagaimana, kenapa, sedemikian rupa sehingga memberikan rasa sukacita yang bertambah terhadap bidang ini. Tetapi kesibukan menjelang tugas akhir sempat mengalihkan perhatian dari bidang ini….
Selalu terkenang adalah satu-dua hari menjelang jadwal pertemuan dengan beliau, selalu saling ngecek sudah sejauh mana progres masing2 untuk dipresentasikan di depan beliau. Syukurnya rasa stres menjadikan kami berlima saling mengingatkan akan tugas2 yang memang sudah disepakati di awal perkuliahan untuk dikerjakan. Walau kadang komentarnya bikin nyesek, tapi belakangan terbukti malah membuat kami bersemangat, seolah berlomba satu sama lain untuk memberikan yang terbaik yang bisa dikerjakan.
Yang paling mengesankan bagi saya adalah, ketika berkesempatan membantu beliau membuat 3D untuk sebuah masjid di Kota Bandung bersama dengan Uda Firmansyah (waktu itu gak mau disebutin namanya karena lagi sibuk ngerjain tugas2 dari Pak Slamet, he he…)… awalnya mendapat sketsa 2 dimensi, dan Pak Slamet meminta mengambil perspektif hanya dari 2 sudut saja, dengan menentukan sudut kamera dan ketinggiannya. Dan ketika sudah jadi, membuat kami berdecak kagum dengan pendekatan desain dan desainnya itu sendiri.
Pak Slamet yang awalnya sangat menyenangi proses desain dengan menggunakan tangan langsung (tidak menggunakan komputer), menjadi orang yang sangat antusias dengan penggunaan teknologi komputer (sebagai alat) setelah terbukti sejauh mana manfaat yang dapat diberikan tanpa menghilangkan kemampuan dan proses desain yang dapat dilakukan. Ada beberapa cerita menarik tentang hal ini dengan Mas Budi Faisal.
Sebagai penasihat IALI, Prof Slamet Wirasonjaya tidak segan2 hadir ketika diundang untuk menyampaikan ceramah terkait keprofesian, baik dalam forum besar, maupun forum yang dihadiri oleh anggota yang tidak banyak… Ketika diundang untuk hadir di kegiatan Dialog Profesi, menginjak usia beliau yang semakin senja, kritik beliau adalah, “Cik atuh bikin acara teh ulah nyusahkeun kolot” (Coba ya, bikin acara jangan bikin susah orang tua).. ya, karena lokasi sekretariat IALI Jabar yang bertangga. Sehingga dalam acara2 berikutnya diadakan di ground floor supaya tidak terlalu menyulitkan Pak Slamet….
Yang juga khas adalah dalam cara menulis beliau, lugas….
Bandung, 04 November 2016….
Inna lillaahi wa inna ilaihi roo’ji’uun… Allaahummaghfirlahu.. warhamhu… wa’afihi… wa’fu’anhu… Selamat jalan Pa Slamet.. insya Allah sadaya elmu nu diajarkeun ku Pa Slamet janten amal jariah anu nyarengan di alam kubur…. mugia ditempatkeun di tempat anu mulia mungguhing Allaah sw.t…. aamiin….