Cuaca cerah di Hari Sabtu ketika kapal memasuki daerah Serui, saya sempat terheran-heran ketika ada seorang bapak sedaang asyik menelpon dari hape-nya. Ketika saya tanya, rupanya di daerah itu ada sinyal dari salah satu operator selular. Fyi, tidak semua operator selular memberikan layanan di Papua. Untuk amannya, lebih baik seandainya memiliki nomor dari Operator T*******L selain nomor lain yang biasa kita pakai….
Mengisi waktu di kapal saya gunakan untuk berkenalan dengan banyak orang, berbincang-bincang tentang hal-hal yang belum saya ketahui di Papua. Satu hal yang kemudian saya sadari adalah bahwa Papua dan Papua Barat itu begitu luasnya sedangkan jumlah penduduk dan daerah terbangunnya masih sangat sedikit (tidak berarti bahwa saya akan pindah ke Papua, he he…). Memang luasan yang masuk dalam kawasan lindung di sini sangat besar, TN Lorntz, TN Teluk Cendrawasih, belum lagi kawasan yang memang susah untuk dibangun.
Terbayang kesulitan saudara-saudara kita di Papua ini pada umumnya dalam hal pengembangan daerahnya. Isolasi komunikasi, Isolasi transportasi, harga barang yang kemudian menjadi mahal, dan itu tadi, banyak kawasannya yang tidak bisa dibangun karena kondisi alamnya (rawa, tebing, dan jurang), atau kawasan yang masuk dalam kawasan lindung berskala internasional).
Ketika tiba di Pelabuhan Nabire hari Sabtu pukul 20.00 WIT, dengan semangat tinggi saya mengaktifkan hape saya dengan harapan dapat segera berkomunikasi dengan keluarga di Bandung. Tampak indikator sinyal full, saya coba kedua sim card saya (I*****T dan T*******L), tapi dari kedua nomor tersebut, saya hanya bisa berkomunikasi 1 x saja, mungkin karena overload ya? sekian orang secara bersamaan menggunakan bandwidth…
Akhirnya kami tiba di Pelabuhan Wasior pada hari Minggu, 14 Juni pukul 04.00, menjelang subuh. Kawan saya, Rojer, yang menjemput dan mengantar saya ke tempat tinggal kawan lama saya di daerah Sanduay.
Setelah berbicara sejenak, solat subuh, akhirnya saya tidak sabar untu k melanjutkan pengembaraan di dunia mimpi…. Alhamdulillah….
Kapal Labobar yang seharusnya masuk Pelabuhan Jayapura Hari Jumat 12 Juni pukul 11.00 ternyata baru tiba pukul 16.00, dan direncanakan berangkat pukul 13.00 akhirnya direschedule berangkat pukul 20.00 dan jadinya berangkat juga pukul 23.00 WIT. Saya yang sudah check out dari hotel, akhirnya extend setengah hari karena tidak mungkin saya bengong di pelabuhan untuk sesuatu yang tidak pasti…. Di hotel saya berbincang-bincang dengan seorang Bapak, yang rupanya hendak berangkat ke Nabire dengan kapal yang sama. Kami sama-sama mengatakan, “Semoga kita bisa bertemu lagi Pa…”
Selepas maghrib saya sudah standby di pelabuhan bersama ratusan, bahkan mungkin ribuan orang calon penumpang lainnya… Setelah melalui prosesi boarding, saya tidak kesulitan menemukan kamar 6024 di dek 6, berdasarkan pengalaman sebelumnya dengan Kapal Ngapulu dari Wasior ke Jayapura.
fyi, kalau tidak salah ada 4 kelas tiket, yaitu kelas ekonomi, kelas wisata, kelas 1b, dan kelas 1a. Mempertimbangkan satu dan lain hal, saya ambil tiket kelas 1b seharga Rp 550.000,00 yang dibeli di salah satu loket penjual tiket PELNI di Kota Jayapura, dekat dengan hotel tempat saya menginap, tiga hari sebelum keberangkatan.
Satu kamar berisi 4 orang, ya tentunya dengan empat bed, empat locker, dan 1 kamar mandi lengkap di dalam, meja kerja, dan satu unit pesawat televisi. Ruang ber-AC ukuran 2,5 x 5 meter tersebut cukup nyaman untuk perjalanan selama 30 jam. Dan karena berada dekat dengan titik setimbang kapal, dan ukuran kapal yang cukup besar, maka hantaman ombak tidak begitu terasa.
Di luar dugaan, begitu saya sampai di kamar, rupanya Bapak yang tadi bertemu di lobby hotel juga berada di kamar yang sama, sehingga spontan kami sama-sama ‘berteriak’, “Ah, rupanya kita bertemu lagi!” (salam untuk Pak Decky Kayame, Kepala Dinas Perhubungan Kab. Nabire….).
Lebih malam lagi, masuklah seorang Bapak lainnya, yang rupanya beliau adalah supporter sejati Persipura, yang sengaja datang ke Jayapura bersama sekian banyak orang supporter lainnya dari Manokwari hanya untuk menyaksikan petandingan Persipura vs Sriwijaya FC tempo hari. Banyak ceritanya yang menggambarkan betapa Pesipura menjadi kebanggan orang Papua, tidak hanya warga Jayapura, bahkan sampai kota-kota lain juga.
Di dalam kamar, ada juga Pak Robi, yang bertugas di Dinas Kesehatan Kabupaten Paniai, yang rupanya adalah saudara Pak Decky.
Sepanjang siang dan malam, ketika kegiatan di luar tidak lagi menjadi menarik, atau karena tiupan angin terlalu kuat, kami asyik bercerita pengalaman masing-masing. Yang terlihat asyik dengan kegiatannya adalah Pak Robi ini, hampir sepanjang perjalanan beliau sibuk menulis di notebooknya. Terlihat beliau familiar sekali dengan laptop dan modem hapenya. Ketika saya cerita bahwa pengalaman-pengalaman saya dituliskan di blog ini, beliau tertarik untuk berkunjung suatu saat….
Yang menarik adalah ketika beliau sampaikan tentang betapa besar rasa syukurnya karena beliau berada di lingkungan keluarga dengan seorang ayah yang sangat mengutamakan pendidikan, sehingga ketika putra-putrinya beranjak dewasa, semua sukses dengan pekerjaannya. Beliau bercerita bagaimana sikap ayahandanya ketika beliau pulang kampung, berlibur dari kuliah, bagaimana ketika mereka sudah menduduki jabatan tertentu, sementara sebagian kawan-kawannya sampai saat ini ada yang masih hidup menggunakan koteka…
Tentang Kapal Labobar, saya bisa cerita tentang mushollanya yang bersih, AC-nya yang dingin, air wudhu yang tersedia dengan lancar, dan tentunya dengan penunjuk arah qiblat yang bisa diputar-putar, dan juga kain yang dapat dipindah-pindah sesuai arah qiblat tadi… Ruang makan yang terletak dekat sekali dengan kamar saya memungkinkan saya beberapa kali menjadi pengunjung pertama tempat tersebut (mode rewog: on).
1. Jakarta – Manokwari – Wasior (ibu kota Kab. Teluk Wondama)
2. Jakarta – Jayapura – Wasior.
Moda tranportasinya:
1. Jakarta – Manokwari,
Bisa pakai Merpati Air, Batavia Air, atau Ekspress Air. Harga tiket bervariasi.
Dari Manokwari ke Wasior bisa via udara, pakai pesawat kecil (18 penumpang) dengan ketidakpastian pemberangkatan karena jumlah penumpang tidak sebanding dengan frekuensi penerbangan (jalur perintis), lama waktu tempuh sekitar 30 menit, terbang tidak terlalu tinggi, masih bisa menikmati pemandangan, tapi suara berisik karena pesawat baling-baling….
atau via laut, pakai ‘Kapal Putih’ dengan membeli tiket PELNI, waktu tempuh sekitar 6 – 8 jam, atau ‘Kapal Perintis’ (yang ini saya gak tau beli tiketnya di mana). Waktu tempuh sekitar 13 – 15 jam.
2. Jakarta – Jayapura, pilihan maskapai dan waktu lebih banyak.
Dari Jayapura ke Wasior dengan Kapal Laut bisa memakan waktu 48 jam, mampir di beberapa tempat seperti Sarmi, Biak, Yapen, Waropen, Nabire, baru masuk ke Wasior.
Tentang jadwal dari Manokwari atau dari Jayapura ke Wasior, saya tidak bisa membantu banyak, karena sangat kondisional. Mungkin setibanya di Manokwari atau Jayapura bisa cari info lagi. Untuk di Manokwari, silakan kontak Bang Mody (sopir carteran), nomornya: 085244661067.
Info tambahan:
1. Di Manokwari ada Mall Hadi, cukup lengkap, harga standar lah, tidak heboh2 amat.
2. Sediakan saja dana untuk satu orang sekitar 10jt untuk transport pp dari dan ke Jkt.
3. Di Wondama hanya ada Bank Papua dan Bank BRI. Saya sudah coba ATM Bersama-nya bisa narik dana dari rekening BNI.
4. Di Wasior baru ada 1 hotel, lokasinya dekat kantor Bupati. Rate-nya saya lupa. Tapi biasanya fully booked. Pengelolanya Mas Faiz, 085244499778. Di hotel ini ada warnetnya juga.
5. Menu makanan cukup bervariasi, ada gado-gado, ada soto, sate, de el el… Yang pernah saya coba sate ayam di dekat bandara, sate di dekat kantor Polsek, gado2 di dekat dermaga (sudah pindah).
6. Kalau anda muslim, diharap berhati-hati karena (maaf) binatang anjing dan babi berkeliaran dengan bebas.
Semoga membantu…
—————
Kalau boleh nitip Mas, saya titip tanaman Keris Papua yang batangnya hitam ya, biar yang di rumah ada temennya, tks…
Bagi saya, perjalanan ke Papua selalu menyisakan kesan tersendiri. Pengalaman-pengalaman selama perjalanan dan selama di sana begitu berbekas, yang baik dan yang kurang baik.
Pernah suatu ketika, dalam perjalanan ke Merauke, selama transit dan duduk dengan beberapa bapak yang asyik diskusi tentang bagaimana dauh dan melelahkannya perjalanan ke Jayapura, transitnya lama, terbangnya juga lama, gak kebayang di sana seperti apa, dll. Dalam hati saya bilang, “Baru ke Jayapura, sudah berkeluh kesah seperti itu, bagaimana kalau ditugaskan ke pedalaman Papua?” he he… sok tahu ya…?
Perjalanan ke Teluk Wondama yang terakhir, bulan Oktober lalu meninggalkan cerita yang tidak kalah seru…
Ketika kami (saya dan seorang kawan) tiba di tempat pengambilan bagasi di Bandara, saya cukup dikejutkan ketika Bang Mody, seorang sopir kijang carteran manggil saya. Saya cukup surprised sebab terakhir kami bertemu satu tahun sebelumnya, itu pun hanya beberapa hari saja, dia antar rombongan ke sana sini. Karena saya belum menemukana bagasi kami, saya minta dia nunggu kami keluar.
Sekitar setengah jam berlalu, kami masih belum berhasil menemukan bagasi kami, padahal orang lain sudah banyak yang meninggalkan tempat. Akhrinya, setelah bagasi terakhir diambil orang, dan kami tidak menemukan bagasi kami, kami tanyakan kepada petugas, Pak Romli (kl tidak salah) yang terlihat capek penuh dengan keringat. Singkat kata, kesimpulannya adalah bahwa karena kesalahan ground crew di Bandara Soekarno Hatta, bagasi kami diturunkan di Sorong, bandara terakhir sebelum kami turun di Manokwari. Saya bilang kesalahan ground crew di bandara CGK, karena jelas-jelas di tiket tujuan kami adalah Manokwari, sedangkan tag bagasi kami Sorong.
Terus terang, awalnya kami ingin sekali melampiaskan kemarahan, akan tetapi, melihat para petugas yang terlihat lelah, tapi tetap berusaha sabar melayani kami, akhirnya kemarahan itu tidak muncul. Setelah bertukar nomor telepon karena dia janji untuk menghubungi kami jika bagasi kami ditemukan, kami menuju luar ruangan.
“Ah, bapak mau ke Wasior toh? Nanti malam ada kapal berangkat.” seorang Bapak menyapa kami dengan ramah. Mungkin karena melihat bungkusan paket yang kami bawa bertuliskan Wasior, ibukota Kabupaten Teluk Wondama. Belakangan akhirnya kami banyak dibantu oleh beliau dalam urusan kami di sana. Alhamdulillah.
Bang Mody mengantar kami keliling Kota Manokwari, beli tiket Pelni, makan coto makasar yang enak, sebelum akhirnya menunjukkan kami ke penginapan yang berdekatan dengan pelabuhan. “Supaya kalau kapal datang bisa langsung jalan kaki ke pelabuhan.” katanya menjelaskan kenapa memilih hotel tersebut.
Sore harinya kami sempatkan belanja pakaian di satu-satunya mall yang ada di Manokwari. Kadang kalau dipikir, lucu juga orang Bandung kok belanja baju di Manokwari. Mau bagaimana lagi, karena tidak ada perlengkapan maka harus ada penggantinya.
Tengah malam saya terbangun. Melihat dari jendela kamar, di arah pelabuhan terlihat banyak sekali lampu bersinar. Setelah diamati, ternyata itu adalah kerlap kerlip lampu dari Kapal Labobar yang telah tiba di pelabuhan dan siap untuk berangkat menuju Wasior. Kamipun segera bersiap. Dengan berjalan kaki kami menuju pelabuhan setelah urusan dengan hotel diselesaikan.
Tiket yang kami miliki adalah kelas ekonomi seharga Rp 50.000,00. Dengan optimis kami naik ke dalam kapal melalui antrian yang cukup panjang dan berdesak-desakan. Kami sangat kaget ketika sudah di dalam kapal, kebingunan mencari tempat untuk duduk. Maklumlah, kelas ekonomi nasibnya tidak jelas..
“Ada kamar kosongkah?” saya bertanya kepada salah seorang ABK berseragam putih-putih yang sedang berdiri di tangga…
“Ah, bapak perlu kamarkah?” dia balik bertanya….
Dengan mengeluarkan enam lembar uang seratus ribu, akhirnya kami mendapatkan fasilitas kamar ber-AC dengan dua bed, lengkap dengan televisi dan kamar mandi di dalam kamar. Uang sebanyak itu untuk mendapatkan fasilitas kamar selama 6 jam perjalanan dari Manokwari menuju Wasior.
… catatan mudik lebaran via darat dari Bandung ke Jambi melaui Selat Sunda, 15 tahun lalu…
Ya, mudik lebaran sepertinya suatu kegiatan yang betul-betul ditunggu-tunggu oleh sebagian besar muslimin di Indonesia.
Mudik bisa dimaknai sangat berbeda-beda, dari yang sekalian melepas rindu kepada orangtua, bersilaturrahim dengan keluarga besar, ada yang dimaknai sebagai ajang untuk sekalian menunjukkan keberhasilan perjalanan kehidupannya selama ini… Dan kita tidak akan pernah tahu karena itu adalah urusan hati… Yang bisa dicatat adalah bahwa kegiatan mudik adalah kesempatan bertemu dengan banyak orang, kesempatan untuk bisa belajar banyak, kesempatan untuk dapat lebih banyak berbagi, dan berbagai kesempatan lainnya yang berkonotasi positif…
“Bi, mudik itu artinya menuju udik ya? Kalau gitu, di kota besar seperti Jakarta itu banyak orang udiknya?” ha ha ha… begitu kira-kira pertanyaan salah seorang anak saya…
Lebaran tahun ini (1431 H) alhamdulillah kami sekeluarga ditakdirkan Allah swt untuk mudik ke Jambi, kota tempat mertua dan beberapa saudara istri tinggal. Ya, kami usahakan untuk dapat berlebaran secara bergiliran. Kalau tahun ini di keluarga istri, maka tahun berikutnya giliran di keluarga saya, begitu seterusnya, insya Allah….
Dengan berbagai pertimbangan, kami putuskan lebaran kali ini melalui jalan darat, menggunakan kendaraan keluarga supaya leluasa dengan bawaan kami, dan leluasa dengan jadwal perjalanan.
Seperti mudik sebelumnya, pengkondisian anak-anak sudah dimulai 2 minggu menjelang keberangkatan. Menurut saya ini penting, karena dengan demikian, anak-anak menjadi bersemangat untuk menjalani perjalanan panjang ini (Bandung – Jambi sekitar 1.050 km). Kami berdiskusi tentang rencana ini, jadwal berangkat dari Bandung apakah pagi, siang atau malam, apakah langsung ke Jambi atau menginap di Lampung dan atau Palembang, dst.
Bagi saya sendiri, salah satu tools yang sangat diperlukan adalah alat bantu navigasi (GPS). Kebetulan GPS kantor yang saya pinjam setelah saya periksa ternyata peta-nya sudah berganti, sehingga tidak ada peta sumatera-nya. Alhasil sayapun mencoba mencari sumber peta lain. Karena keterbatasan pengetahuan, dan keinginpraktisan saya, akhirnya saya googling via mobile internet (males ke warnet, males buka2 komputer). Alhamdulillah ada beberapa blog yang menunjukkan cara memasukkan peta ke dalam mobile GPS (kebetulan di HP saya sudah terinstall mobile gps). Akhirnya sayapun terarahkan ke www.navigasi.net dan mengunduh peta di situ, dan dengan tutorial yang diperoleh dari beberapa blog, akhirnya terinstall-lah peta baru di hape saya. SubhanAllah datanya cukup informatif dan lengkap. Dengan informasi dari peta tersebut, ketika indikator bbm menunjukkan setengah, saya tidak khawatir lagi karena tahu masih ada spbu dalam jarak dekat di depan….
Rupanya Allah swt memperlihatkan kuasa-Nya. Seminggu menjelang jadwal keberangkatan, ketiga anak saya terkena sakit batuk, dan juga panas secara bergiliran. Karena khawatir, kami akhirnya membawa si bungsu tes darah, untuk meyakinkan apakah ada penyakit yang berbahaya atau karena flu saja. Setelah mendapat kepastian bahwa tidak ada penyakit yang membahayakan, akhirnya kami putuskan untuk tetap berangkat.
Karena kondisi saya yang juga kurang sehat, rencana berangkat Minggu malam akhirnya digeser menjadi Hari Senin pagi. Pukul 06.05 kamipun memasuki gerbang tol Buahbatu. Singkat kata, kira-kira pukul 11.00 kami tiba di pelabuhan Merak. Kamipun membeli tiket seharga Rp 198.000 (uang yang kami bayar sama dengan nominal yang tertera di tiket). SubhanAllah, dari lokasi pembelian tiket tersebut kami dapat langsung naik kapal, dan sekitar 10 menit kemudian kapal ferry kamipun berangkat menuju Bakauheni…
Menjelang asar, karena kondisi fisik yang terasa berat, saya putuskan untuk mencari hotel di Bandar Lampung, dan alhamdulillah masih mendapatkan dua kamar kosong. Maghrib kami putuskan untuk makan di satu tempat makan franchise di seberang hotel, sambil mengamati perilaku orang-orang yang makan di situ.
Acara malam diisi dengan menerima kunjungan kawan lama waktu di SMA yang kebetulan bekerja dan tinggal di Bandar Lampung. Terima kasih untuk Dasep beserta istri, dan Fisky yang sudah menyediakan waktunya untuk bisa bertemu walaupun tidak bisa lama. Banyak pengalaman yang bisa saya dapatkan dari cerita Dasep dan Fisky…
Selasa pagi, kami berangkat pukul 06.00, setelah sarapan pagi diganti sahur di kamar masing-masing. Perjalanan Lampung menuju Palembang sekalian digunakan untuk memperkenalkan Kota Bandar Lampung ke anak-anak. Rupanya mereka lebih memilih memanfaatkan fasilitas berbuka puasa karena sebagai musafir diperbolehkan untuk berbuka..
Tibalah waktu dhuhur, dan kami putuskan untuk sholat di salah satu spbu yang ternyata berjarak sekitar 5 menit dari Rumah Makan Pagi Sore dekat Danau Teluk Gelam, beberapa menit sebelum memasuki Kota Kayu Agung… Karena area parkir dekat musholla sudah terisi, maka saya memarkir kendaraan di posisi ‘paling luar’, paling dekat dengan jalan raya…
Ketika parkir, terlihat ada satu mobil dengan plat nomor berawalan “D” yang berarti berasal dari daerah Priangan (Bandung dsk). Selesai sholat, sopir mobil tersebut menyapa saya, bertanya ke mana tujuan saya, dan mengajak konvoi karena mobilnya menuju Medan, dan berrencana istirahat di Jambi. Singkat kata, karena bapak tersebut terlihat masih agak lama istirahatnya, saya sampaikan bahwa saya akan pergi lebih dulu dari dia. Akan tetapi kami terkaget2 ketika mendapati kaca jendela sopir sudah pecah dan pecahannya berantakan ada di dalam jok depan….
Wah, betul2 kaget saya, apalagi putri saya, Nada yang langsung berteriak spontan…. Mendapati kaca pecah seperti itu, saya hanya berpikir, apa tadi selama jalan saya sempat menyenggol orang atau membuat orang celaka sehingga dia marah dan memecahkan kaca mobil saya? sambil membersihkan kaca, sayapun beristighfar, memohon ampun seandainya saya melakukan hal tersebut… Tiba-tiba anak saya teriak, “Bi, tas pinggang abi mana?” Deg! kontan saya ingat tas laptop yang ditinggal di mobil… Alhamdulillah tas laptop masih aman di jok belakang, karena memang tertutup berbagai barang lain…
Setelah bersih2 pecahan kaca, kamipun meneruskan perjalanan, setelah sebelumnya melaporkan kejadian tersebut ke pengelola SPBU. Saya sampaikan bahwa ini supaya menjadi perhatian, sehingga tidak ada orang yang mengalami hal yang sama…
Perjalanan ke Palembang diiringi suara “kelepakan” plastik penutup kaca darurat. Karena itu, kamipun memutuskan untuk menginap lagi di Palembang karena mobil harus diperbaiki dulu. Sayangnya bengkel resmi sudah mau tutup, dan disuruh kembali keesokan paginya. SubhanAllah, Allah swt memberikan kami kemudahan lagi. Kami mendapatkan penginapan gratis di Palembang, di rumah salah seorang kenalan kami, dan mobil yang bolong tersebut dapat disimpan dengan aman.
Rabu pagi, ketika kendaraan sedang diperbaiki, adik kami tiba menjemput kami dan mengantar jalan-jalan keliling Kota Palembang. Pasar 16 Ilir menjadi tujuan untuk mencari selembar kain songket….
Pukul 10.30, ditelpon oleh bengkel, diinformasikan bahwa kaca sudah selesai diganti, dan pukul 11.00 kamipun bisa meneruskan perjalanan ke Kota Jambi, dan kami tiba di Jambi sekitar pukul 17-an…
Kegiatan di Kota Jambi diisi melepas kangen dengan orang tua, silaturahim dengan famili yang juga berdatangan, jalan ke sana ke sini, melihat jembatan Batang Hari II, wisata kuliner (tentunya dong…), dan alhamdulillah masih dapat bertemu dengan kawan (tepatnya mantan mahasiswa waktu sy masih menjadi dosen luar biasa di salah satu perguruan tinggi teknologi negeri di Bandung). Diajaknya saya melihat lahan di tepi Danau Sipin, sambil bercerita tentang berbagai kegiatan pembangunan di Kota Jambi…