Perjalanan ke Teluk Wondama (4?)

…rupanya satu halaman tidak cukup untuk cerita pengalaman 2 minggu di Papua….

Cuaca cerah di Hari Sabtu ketika kapal memasuki daerah Serui, saya sempat terheran-heran ketika ada seorang bapak sedaang asyik menelpon dari hape-nya. Ketika saya tanya, rupanya di daerah itu ada sinyal dari salah satu operator selular. Fyi, tidak semua operator selular memberikan layanan di Papua. Untuk amannya, lebih baik seandainya memiliki nomor dari Operator T*******L selain nomor lain yang biasa kita pakai….

Mengisi waktu di kapal saya gunakan untuk berkenalan dengan banyak orang, berbincang-bincang tentang hal-hal yang belum saya ketahui di Papua. Satu hal yang kemudian saya sadari adalah bahwa Papua dan Papua Barat itu begitu luasnya sedangkan jumlah penduduk dan daerah terbangunnya masih sangat sedikit (tidak berarti bahwa saya akan pindah ke Papua, he he…). Memang luasan yang masuk dalam kawasan lindung di sini sangat besar, TN Lorntz, TN Teluk Cendrawasih, belum lagi kawasan yang memang susah untuk dibangun.

Terbayang kesulitan saudara-saudara kita di Papua ini pada umumnya dalam hal pengembangan daerahnya. Isolasi komunikasi, Isolasi transportasi, harga barang yang kemudian menjadi mahal, dan itu tadi, banyak kawasannya yang tidak bisa dibangun karena kondisi alamnya (rawa, tebing, dan jurang), atau kawasan yang masuk dalam kawasan lindung berskala internasional).

Ketika tiba di Pelabuhan Nabire hari Sabtu pukul 20.00 WIT, dengan semangat tinggi saya mengaktifkan hape saya dengan harapan dapat segera berkomunikasi dengan keluarga di Bandung. Tampak indikator sinyal full, saya coba kedua sim card saya (I*****T dan T*******L), tapi dari kedua nomor tersebut, saya hanya bisa berkomunikasi 1 x saja, mungkin karena overload ya? sekian orang secara bersamaan menggunakan bandwidth…

Akhirnya kami tiba di Pelabuhan Wasior pada hari Minggu, 14 Juni pukul 04.00, menjelang subuh. Kawan saya, Rojer, yang menjemput dan mengantar saya ke tempat tinggal kawan lama saya di daerah Sanduay.

Setelah berbicara sejenak, solat subuh, akhirnya saya tidak sabar untu k melanjutkan pengembaraan di dunia mimpi…. Alhamdulillah….

Perjalan ke Teluk Wondama (3?)

…….tulisan ini terutama didedikasikan bagi mereka yang hendak bepergian ke wilayah Papua dan belum memiliki informasi yang cukup mengenai kondisi transportasi di kawasan ini…. semoga membantu…

Kapal Labobar yang seharusnya masuk Pelabuhan Jayapura Hari Jumat 12 Juni pukul 11.00 ternyata baru tiba pukul 16.00, dan direncanakan berangkat pukul 13.00 akhirnya direschedule berangkat pukul 20.00 dan jadinya berangkat juga pukul 23.00 WIT. Saya yang sudah check out dari hotel, akhirnya extend setengah hari karena tidak mungkin saya bengong di pelabuhan untuk sesuatu yang tidak pasti…. Di hotel saya berbincang-bincang dengan seorang Bapak, yang rupanya hendak berangkat ke Nabire dengan kapal yang sama. Kami sama-sama mengatakan, “Semoga kita bisa bertemu lagi Pa…”

Selepas maghrib saya sudah standby di pelabuhan bersama ratusan, bahkan mungkin ribuan orang calon penumpang lainnya… Setelah melalui prosesi boarding, saya tidak kesulitan menemukan kamar 6024 di dek 6, berdasarkan pengalaman sebelumnya dengan Kapal Ngapulu dari Wasior ke Jayapura.

fyi, kalau tidak salah ada 4 kelas tiket, yaitu kelas ekonomi, kelas wisata, kelas 1b, dan kelas 1a. Mempertimbangkan satu dan lain hal, saya ambil tiket kelas 1b seharga Rp 550.000,00 yang dibeli di salah satu loket penjual tiket PELNI di Kota Jayapura, dekat dengan hotel tempat saya menginap, tiga hari sebelum keberangkatan.

Satu kamar berisi 4 orang, ya tentunya dengan empat bed, empat locker, dan 1 kamar mandi lengkap di dalam, meja kerja, dan satu unit pesawat televisi. Ruang ber-AC ukuran 2,5 x 5 meter tersebut cukup nyaman untuk perjalanan selama 30 jam. Dan karena berada dekat dengan titik setimbang kapal, dan ukuran kapal yang cukup besar, maka hantaman ombak tidak begitu terasa.

Di luar dugaan, begitu saya sampai di kamar, rupanya Bapak yang tadi bertemu di lobby hotel juga berada di kamar yang sama, sehingga spontan kami sama-sama ‘berteriak’, “Ah, rupanya kita bertemu lagi!” (salam untuk Pak Decky Kayame, Kepala Dinas Perhubungan Kab. Nabire….).

Lebih malam lagi, masuklah seorang Bapak lainnya, yang rupanya beliau adalah supporter sejati Persipura, yang sengaja datang ke Jayapura bersama sekian banyak orang supporter lainnya dari Manokwari hanya untuk menyaksikan petandingan Persipura vs Sriwijaya FC tempo hari. Banyak ceritanya yang menggambarkan betapa Pesipura menjadi kebanggan orang Papua, tidak hanya warga Jayapura, bahkan sampai kota-kota lain juga.

Di dalam kamar, ada juga Pak Robi, yang bertugas di Dinas Kesehatan Kabupaten Paniai, yang rupanya adalah saudara Pak Decky.

Sepanjang siang dan malam, ketika kegiatan di luar tidak lagi menjadi menarik, atau karena tiupan angin terlalu kuat, kami asyik bercerita pengalaman masing-masing. Yang terlihat asyik dengan kegiatannya adalah Pak Robi ini, hampir sepanjang perjalanan beliau sibuk menulis di notebooknya. Terlihat beliau familiar sekali dengan laptop dan modem hapenya. Ketika saya cerita bahwa pengalaman-pengalaman saya dituliskan di blog ini, beliau tertarik untuk berkunjung suatu saat….

Yang menarik adalah ketika beliau sampaikan tentang betapa besar rasa syukurnya karena beliau berada di lingkungan keluarga dengan seorang ayah yang sangat mengutamakan pendidikan, sehingga ketika putra-putrinya beranjak dewasa, semua sukses dengan pekerjaannya. Beliau bercerita bagaimana sikap ayahandanya ketika beliau pulang kampung, berlibur dari kuliah, bagaimana ketika mereka sudah menduduki jabatan tertentu, sementara sebagian kawan-kawannya sampai saat ini ada yang masih hidup menggunakan koteka…

Tentang Kapal Labobar, saya bisa cerita tentang mushollanya yang bersih, AC-nya yang dingin, air wudhu yang tersedia dengan lancar, dan tentunya dengan penunjuk arah qiblat yang bisa diputar-putar, dan juga kain yang dapat dipindah-pindah sesuai arah qiblat tadi… Ruang makan yang terletak dekat sekali dengan kamar saya memungkinkan saya beberapa kali menjadi pengunjung pertama tempat tersebut (mode rewog: on).

(bersambung…)

Perjalanan ke Teluk Wondama (sambungan)

…tulisan ini ditulis sebagai sambungan dari tulisan pertama saya, tentang Perjalanan ke Teluk Wondama, terutama teringatkan oleh komentar dari Mas/Pak Iwan Bulus tangal 18 Februari lalu…

Ke Teluk Wondama bisa melalui rute:

1. Jakarta – Manokwari – Wasior (ibu kota Kab. Teluk Wondama)

2. Jakarta – Jayapura – Wasior.

Moda tranportasinya:

1. Jakarta – Manokwari,

Bisa pakai Merpati Air, Batavia Air, atau Ekspress Air. Harga tiket bervariasi.

Dari Manokwari ke Wasior bisa via udara, pakai pesawat kecil (18 penumpang) dengan ketidakpastian pemberangkatan karena jumlah penumpang tidak sebanding dengan frekuensi penerbangan (jalur perintis), lama waktu tempuh sekitar 30 menit, terbang tidak terlalu tinggi, masih bisa menikmati pemandangan, tapi suara berisik karena pesawat baling-baling….

atau via laut, pakai ‘Kapal Putih’ dengan membeli tiket PELNI, waktu tempuh sekitar 6 – 8 jam, atau ‘Kapal Perintis’ (yang ini saya gak tau beli tiketnya di mana). Waktu tempuh sekitar 13 – 15 jam.

2. Jakarta – Jayapura, pilihan maskapai dan waktu lebih banyak.

Dari Jayapura ke Wasior dengan Kapal Laut bisa memakan waktu 48 jam, mampir di beberapa tempat seperti Sarmi, Biak, Yapen, Waropen, Nabire, baru masuk ke Wasior.

Tentang jadwal dari Manokwari atau dari Jayapura ke Wasior, saya tidak bisa membantu banyak, karena sangat kondisional. Mungkin setibanya di Manokwari atau Jayapura bisa cari info lagi. Untuk di Manokwari, silakan kontak Bang Mody (sopir carteran), nomornya: 085244661067.

Info tambahan:

1. Di Manokwari ada Mall Hadi, cukup lengkap, harga standar lah, tidak heboh2 amat.

2. Sediakan saja dana untuk satu orang sekitar 10jt untuk transport pp dari dan ke Jkt.

3. Di Wondama hanya ada Bank Papua dan Bank BRI. Saya sudah coba ATM Bersama-nya bisa narik dana dari rekening BNI.

4. Di Wasior baru ada 1 hotel, lokasinya dekat kantor Bupati. Rate-nya saya lupa. Tapi biasanya fully booked. Pengelolanya Mas Faiz, 085244499778. Di hotel ini ada warnetnya juga.

5. Menu makanan cukup bervariasi, ada gado-gado, ada soto, sate, de el el… Yang pernah saya coba sate ayam di dekat bandara, sate di dekat kantor Polsek, gado2 di dekat dermaga (sudah pindah).

6. Kalau anda muslim, diharap berhati-hati karena (maaf) binatang anjing dan babi berkeliaran dengan bebas.

Semoga membantu…

—————

Kalau boleh nitip Mas, saya titip tanaman Keris Papua yang batangnya hitam ya, biar yang di rumah ada temennya, tks…

Ini foto2 yang bisa saya share:

Kamar 'sewa khusus'
Suasana di dermaga wasior
Suasana di Bandara Wasior

Perjalanan ke Teluk Wondama

Tulisan aslinya ada disini…

Bagi saya, perjalanan ke Papua selalu menyisakan kesan tersendiri. Pengalaman-pengalaman selama perjalanan dan selama di sana begitu berbekas, yang baik dan yang kurang baik.

Pernah suatu ketika, dalam perjalanan ke Merauke, selama transit dan duduk dengan beberapa bapak yang asyik diskusi tentang bagaimana dauh dan melelahkannya perjalanan ke Jayapura, transitnya lama, terbangnya juga lama, gak kebayang di sana seperti apa, dll. Dalam hati saya bilang, “Baru ke Jayapura, sudah berkeluh kesah seperti itu, bagaimana kalau ditugaskan ke pedalaman Papua?” he he… sok tahu ya…?

Perjalanan ke Teluk Wondama yang terakhir, bulan Oktober lalu meninggalkan cerita yang tidak kalah seru…

Ketika kami (saya dan seorang kawan) tiba di tempat pengambilan bagasi di Bandara, saya cukup dikejutkan ketika Bang Mody, seorang sopir kijang carteran manggil saya. Saya cukup surprised sebab terakhir kami bertemu satu tahun sebelumnya, itu pun hanya beberapa hari saja, dia antar rombongan ke sana sini. Karena saya belum menemukana bagasi kami, saya minta dia nunggu kami keluar.

Sekitar setengah jam berlalu, kami masih belum berhasil menemukan bagasi kami, padahal orang lain sudah banyak yang meninggalkan tempat. Akhrinya, setelah bagasi terakhir diambil orang, dan kami tidak menemukan bagasi kami, kami tanyakan kepada petugas, Pak Romli (kl tidak salah) yang terlihat capek penuh dengan keringat. Singkat kata, kesimpulannya adalah bahwa karena kesalahan ground crew di Bandara Soekarno Hatta, bagasi kami diturunkan di Sorong, bandara terakhir sebelum kami turun di Manokwari. Saya bilang kesalahan ground crew di bandara CGK, karena jelas-jelas di tiket tujuan kami adalah Manokwari, sedangkan tag bagasi kami Sorong.

Terus terang, awalnya kami ingin sekali melampiaskan kemarahan, akan tetapi, melihat para petugas yang terlihat lelah, tapi tetap berusaha sabar melayani kami, akhirnya kemarahan itu tidak muncul. Setelah bertukar nomor telepon karena dia janji untuk menghubungi kami jika bagasi kami ditemukan, kami menuju luar ruangan.

“Ah, bapak mau ke Wasior toh? Nanti malam ada kapal berangkat.” seorang Bapak menyapa kami dengan ramah. Mungkin karena melihat bungkusan paket yang kami bawa bertuliskan Wasior, ibukota Kabupaten Teluk Wondama. Belakangan akhirnya kami banyak dibantu oleh beliau dalam urusan kami di sana. Alhamdulillah.

Bang Mody mengantar kami keliling Kota Manokwari, beli tiket Pelni, makan coto makasar yang enak, sebelum akhirnya menunjukkan kami ke penginapan yang berdekatan dengan pelabuhan. “Supaya kalau kapal datang bisa langsung jalan kaki ke pelabuhan.” katanya menjelaskan kenapa memilih hotel tersebut.

Sore harinya kami sempatkan belanja pakaian di satu-satunya mall yang ada di Manokwari. Kadang kalau dipikir, lucu juga orang Bandung kok belanja baju di Manokwari. Mau bagaimana lagi, karena tidak ada perlengkapan maka harus ada penggantinya.

Tengah malam saya terbangun. Melihat dari jendela kamar, di arah pelabuhan terlihat banyak sekali lampu bersinar. Setelah diamati, ternyata itu adalah kerlap kerlip lampu dari Kapal Labobar yang telah tiba di pelabuhan dan siap untuk berangkat menuju Wasior. Kamipun segera bersiap. Dengan berjalan kaki kami menuju pelabuhan setelah urusan dengan hotel diselesaikan.

Tiket yang kami miliki adalah kelas ekonomi seharga Rp 50.000,00. Dengan optimis kami naik ke dalam kapal melalui antrian yang cukup panjang dan berdesak-desakan. Kami sangat kaget ketika sudah di dalam kapal, kebingunan mencari tempat untuk duduk. Maklumlah, kelas ekonomi nasibnya tidak jelas..

“Ada kamar kosongkah?” saya bertanya kepada salah seorang ABK berseragam putih-putih yang sedang berdiri di tangga…

“Ah, bapak perlu kamarkah?” dia balik bertanya….

Dengan mengeluarkan enam lembar uang seratus ribu, akhirnya kami mendapatkan fasilitas kamar ber-AC dengan dua bed, lengkap dengan televisi dan kamar mandi di dalam kamar. Uang sebanyak itu untuk mendapatkan fasilitas kamar selama 6 jam perjalanan dari Manokwari menuju Wasior.

(bersambung….)