Landscape sepanjang perjalanan dari kota menuju Ku-Rulu sungguh menakjubkan. Ini adalah salah satu setting yang ingin sekali saya kunjungi, walau hanya dalam waktu yang relatif singkat. Alhamdulillah…

Karena keasyikan, kami harus kembali ke kota dalam kondisi hujan-hujanan. Lengkap sudah pengalaman di Wamena ini. Panas, dingin, kehujanan, sehingga malam harinya harus tidur tanpa jaket dan kaus tangan. Beruntung masih ada tiga baju yang dapat dipakai bersamaan sehingga tidak terlalu dingin.
Hari Rabu pagi, kami sudah standby di bandara Wamena sesuai arahan dari kawan yang mengurus tiket kami. Tanpa jaket saya diantar kawan menembus dinginnya kabut Wamena. Tiba di bandara rupanya pengantar tiket belum datang, mungkin karena dia tahu bahwa tidak mungkin berangkat dalam kondisi berkabut seperti itu. Menjelang pukul 08.00, bandara dipenuhi oleh hampir semuanya turis asing. Katanya ada yang dari Belanda, ada dari Rusia, Perancis, China, Jepang, dll.
Mudah-mudahan akan ada kesempatan lain mengunjungi Wamena, supaya dapat melihat langsung mummi salah satu kepala suku di sini, yang katanya berada di lokasi yang kami lewati ketika menuju lokasi festival kemarin.
Akhirnya, setelah menunggu kabut pergi selama sekitar 3 jam, kamipun berangkat menuju Jayapura untuk selanjutnya berangkat ke Jakarta dan diteruskan ke Bandung lewat darat…






