diadapatasi dari tulisan ini di blog lama..
Masih terbayang dalam ingatan, masa-masa kecil ketika musim liburan sekolah tiba. Saya dan saudara-saudara yang umurnya hampir sama seringkali berlibur ke Kota Bandung, untuk menikmati suasana lain. Kerja keras untuk mendapatkan nilai terbaik selama satu catur wulan terbayar rasanya dengan liburan di Kota yang dikenal dengan sebutan Paris van Java ini.
Rumah Om yang berada di sekitar Hotel Homann, menjadikan jalan-jalan ke alun-alun di malam hari suatu keharusan, tanpa memerlukan naik kendaraan. Melihat air mancur, bermain dana bercengkrama dengan saudara-saudara di bawah pergola dengan tanaman rambatnya, suasana yang dingin dan kadang berselimut kabut. Para tukang foto yang dengan santun menawarkan jasa foto kilatnya, jajanan khas Kota Bandung. Sungguh menyenangkan….
Hari kedua biasanya diisi dengan kunjungan wajib ke rumah Nenek yang berada di Sukajadi. Rute kendaraan dari bawah jembatan Masjid Agung, ke Jalan Banceuy, Wastukancara dengan batu-batu retaining wall sepanjang jalan, deretan pohon palem di jalan Terusan Pasteur. Sungguh menjadi kenangan yang masih terrekam hingga saat ini.
Jaket, merupakan salah satu yang tidak boleh tertinggal dalam daftar bawaan saya. Karena Kota Bandung masih terasa dingin, apalagi di malam hari. Kunjungan ke Sukajadi harus diselingi dengan mandi dan keramas sepuas-puasnya, sekedar untuk merasakan dinginnya air Kota Bandung waktu itu.
Berjalan kaki di sepanjang Jalan Asia Afrika, merupakan perjalanan yang mengasyikkan bagi anak seusia SD, apalagi terbayang berbagai pilihan sepatu dan pakaian yang sangat beraneka ragam dengan kualitas yang dapat diandalkan untuk dipakai berlebaran.
Tidak pernah terdengar ada cerita banjir, atau macet, tanah longsor, atau angin puting beliung… Selain karena media informasi yang masih sangat terbatas, juga memang karena kejadian semacam itu sangat jarang terjadi…
Tapi… itu dulu….
Coba kita perhatikan dan amati kondisi Kota Bandung saat ini…
Pekan-pekan terakhir ini, kalau bada maghrib saya menelpon ke rumah, informasi pertama dari istri saya adalah, “hujan deras, pulangnya tunggu saja dulu, atau cari jalan alternatif”. Kenapa harus menunggu? Ya, karena hampir dapat dipastikan beberapa ruas jalan yang akan saya lewati menjadi area banjir cileuncang, mulai dari ketinggian air semata kaki, sampai sepaha orang dewasa. Terus, kenapa harus bada maghrib? Ya sekedar untuk mendapatkan suasana perjalanan yang sedikit lebih tenang dibanding menjelang maghrib…
Sering sekali ketika terjadi hujan lebat, menyaksikan Jalan Setiabudi menjadi lebih tepat disebut sungai daripada jalan. Saksikan persimpangan Jl Soekarno Hatta – Jl Gedebage – Jl Rumahsakit lebih tepat disebut sebagai situ/danau daripada disebut simpang jalan. Beberapa jalan dari arah utara Ujung Berung seperti berlomba menggelontorkan air ke kawasan di bawahnya daripada menjadi sarana warga berlalu lintas…
Sekarang lebih parah lagi, coba perhatikan kondisi Jl Cipamokolan Riung Bandung, rasanya lebih tepat disebut sebagai dasar sungai yang penuh dengan batu dan lumpur daripada disebut jalan.
Terakhir sekali, suatu malam saya pulang kantor sekitar pukul 19-an, lewat jembatan Paspati. Di ujung timurnya, sebelum tiba di Lapang Gasibu, daerah itu menjadi area banjir cileuncang baru, sampai-sampai sebuah taksi berwarna hijau-biru mogok tidak bisa meneruskan perjalanannya. Alhasil, terjadi antrian di situ….
Kondisi paling parah adalah ketika malam hari, lampu penerangan jalan tidak berfungsi sebagaimana mestinya (alias padam, poek mongkleng kata Urang Sunda mah) di ruas jalan yang berlubang, ditambah dengan hujan yang tanggung, sehingga membuat permukaan jalan menjadi licin. Lengkaplah sudah penderitaan para pengguna jalan di ibukota propinsi yang katanya ingin menjadi mitra terdepan ibukota negara Indonesia ini….
Belum lagi masalah semrawutnya kondisi lalu lintas para pengguna jalan. Kurangnya kesadaran akan keselamatan bersama, bersatu dengan egoisme kepentingan pribadi yang serba ingin cepat sampai, dibumbui dengan ketidaktegasan penegakan aturan, dikombinasikan dengan kondisi jalan seperti adanya saat ini, jangan heran kalau jarak yang seharusnya dapat ditembuh selama 20 menit menjadi harus ditempuh dengan waktu tidak kurang dari setengah jam.
Salut buat warga Kota Bandung yang masih bisa bersabar menghadapi kondisi seperti ini. Semoga kesabaran ini membuahkan ide-ide kreatif untuk dapat menyelesaikan masalah yang ada.
Keterbatasan dana yang selalu dikeluhkan pengelola kota ini, seharusnya tidak menyurutkan langkah untuk perbaikan. Kalaulah waktu sekolah, wali kelas senantiasa berupaya mencari solusi atas permasalahan anak wali di kelasnya, seyogyanyalah wali-nya kota ini membuat suatu gerakan, yang seandainya berhasil, maka akan menjadi ‘titinggal’ yang akan dikenang terus sepanjang masa. Tidak sedikit pemikir dimiliki Kota Bandung. Tidak sedikit institusi pendidikan teknik hadir di kota ini. Luar biasa besarnya perputaran dana di kota ini. Tidak sedikit usahawan yang meraup untung dan hidup di sini. Satu sentuhan yang tepat, rasanya dapat membangkitkan semangat warga kota ini untuk bersama-sama berkontribusi mengembalikan citra ibukota propinsi sebagai kota terbaik di Jawa Barat, bahkan mungkin di Indonesia.
Buktikan bahwa di kota ini hadir pemimpin yang mampu memimpin dan didukung warganya, buktikan bahwa di kota ini banyak ahli-ahli teknologi yang siap berkontribusi tanpa harus kehilangan waktunya yang berharga, buktikan bahwa di kota ini masih banyak pengusaha yang care terhadap perbaikan kotanya tanpa harus kehilangan kesempatan meraih keuntungan lebih banyak…. buktikan bahwa semua itu mungkin dilakukan….
Hanya satu yang diperlukan untuk semua itu, kesungguhan dari semua pihak untuk menuju Bandung yang lebih baik….
Catatan: sekarang sudah di awal Bulan Maret 2025. Bagaimana keadaan Kota Bandung?

